1.Orang yang mencintai kamu tdk pernah bisa memberikan lasan kenapa ia mencintai kamu yang ia tahu di matanya hanya ada kamu satu2Nya.
2.Kalau kamu sudah memiliki pacar atau kekasih ia tidak perduli, buat dia yang penting kamu bahagia dan kamu tetap impiannya.
3.Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu apa adanya, dimatanya kamu selalu yang tercantik walaupun mungkin kamu merasa berat badan kamu sudah berlebihan atau kamu merasa kegemukan :)P
4.Orang yang mencintai kamu selalu ingin tahu tentang apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini, ia ingin tahu kegiatan kamu.
5.Orang yang mencintai kamu akan mengirimkan sms seperti "slmt pagi", "slmt hari minggu", "selamat tidur" walaupun kamu tidak membalas pesannya.
6.Kalau kamu berulang tahun dan kamu tidak mengundangnya setidaknya ia akan menelpon utk mengucapkan selamat atau mengirim pesan.
7.Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang ia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah lupa setiap detailnya karena, saat itu ialah sesuatu yang berharga untuknya.
8.Orang yang mencintai kamu selalu mengingat tiap kata2 yang kamu ucapkan bahkan mungkin kata2 yang kamu sendiri lupa pernah mengatakannya.
9.Orang yang mencintai kamu akan belajar menyukai lagu-lagu kesukaanmu, bahkan mungkin meminjam CD/cassette kamu, karena ia ingin tahu kesukaanmu, kesukaanmu kesukaannya juga.
10.Kalau terakhir kali kalian bertemu kamu sedang sakit mungkin flu, terkilir, atau sakit gigi, beberapa hari kemudian ia akan mengirim sms dan menanyakan keadaanmu. karena ia mengkhawatirkanmu.
11.Kalau kamu bilang akan menghadapi ujian ia akan menanyakan kapan ujian itu, dan saat harinya tiba ia akan mengirimkan sms "good luck "untuk menyemangati kamu.
12.Orang yang mencintai kamu akan memberikan suatu barang miliknya yang mungkin buat kamu itu ialah sesuatu yang biasa , tetapi itu ialah suatu barang yang istimewa buat dia.
13.Orang yang mencintai kamu akan terdiam sesaat,saat sedang berbicara ditelpon dengan kamu,sehingga kamu menjadi bingung, saat itu dia merasa sangat gugup karena kamu telah mengguncang dunianya.
14.Orang yang mencintai kamu selalu ingin berada di dekatmu dan ingin menghabiskan hari2nya denganmu.
15.Jika suatu saat kamu harus pindah ke kota lain untuk waktu yang lain ia akan memberikan nasihat supaya kamu waspada dengan lingkungan yang bisa membawa pengaruh buruk bagimu.
16.Orang yang mencintai kamu bertindak lebih seperti saudara daripada seperti seorang kekasih.
17.Orang yang mencintai kamu sering melakukan hal-hal yang konyol seperti menelponmu 100 kali dalam sehari, atau membangunkanmu ditengah malam,karena ia mengirim sms atau menelponmu. karena ia saat itu ia sedang memikirkan kamu.
18.Orang yang mencintai kamu kadang merindukanmu dan melakukan hal2 yg membuat kamu jengkel atau gila, saat kamu bilang tindakannya membuatmu terganggu ia akan minta maaf dan tak akan melakukannya lagi.
19.Jika kamu memintanya untuk mengajarimu sesuatu maka ia akan mengajarimu dgn sabar walaupun kamu mungkin orang yang terbodoh di dunia!
20.Kalau kamu melihat handphone-nya maka namamu akan menghiasi sebagian besar "INBOX"nya.Ya ia masih menyimpan pesan dari kamu walaupun pesan itu sudah kamu kirim sejak berbulan2x bahkan bertahun2x yang lalu.
21.Dan jika kamu menghindarinya atau memberi reaksi penolakan, ia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupanmu, walaupun hal itu membunuh hatinya.
22.Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan ia akan ada di sana menunggumu karena ia tak pernah mencari orang lain. Ya... ia selalu menunggumu.
Adakah org yg memperlakukan kamu dgn cara2 seperti di atas? Kalau ada, jgn pernah sia-siakan org tsb... kmu akan menyesal melakukannya karena ia hanya akan datang sekali ke hidupmu
nn
Facebook Badge
About Me
Blog Archive
-
▼
2011
(18)
-
▼
November
(16)
- Apakah Ada Yang Seperti ini ?
- Teknik Memilih Atasan
- Menerima Diri Kita Apa Adanya
- Menikmati Saat-Saat Kita ’Merasa’ Dijadikan Sebaga...
- Pertanyaan Paling Sulit Tentang Pernikahan
- Apakah Pengalaman Bisa Dibeli?
- Haruskah Kita Bersabar Menantikan Masa Depan?
- Menjalani Saat-Saat Jalan Ditempat
- Haruskah Anda Terima Tawaran itu ?
- Apakah Anda Menyukai Tebu Atau Gulanya?
- Memuliakan Bawahan
- Tidak Melakukan Apapun – Bisakah Anda?
- Teknik Mengkritik Yang Simpatik
- Mengatasi Bawahan Yang Sulit
- Rasa Syukur, Kenikmatan, Dan Kebahagiaan.
- Pekerjaan Dengan Bayaran Tertinggi
-
▼
November
(16)
blog ku juga..
Followers
iklan
counter
Live Traffic Feed
Saturday, November 19, 2011
Apakah Ada Yang Seperti ini ?
Teknik Memilih Atasan
by : Dadang Kadarusman
Riset menunjukkan bahwa hubungan dengan atasan sangat menentukan betah atau tidaknya seorang bawahan bekerja di perusahaan atau unit kerja tertentu. Sudah bukan rahasia umum lagi jika bawahan seolah-olah selalu berada dalam posisi yang paling lemah. Padahal, antara atasan dengan bawahan itu ada kesetaraan. Kita mengira hanya atasan yang bisa menentukan siapa orang yang layak menjadi bawahannya, padahal bawahan pun bisa memilih atasannya. Penasaran?
Harus saya akui bahwa tidak 100% orang yang memimpin saya adalah orang-orang pilihan saya. Tetapi selama karir professional saya, bisa saya pastikan bahwa sebagian besar mantan atasan saya adalah orang-orang yang saya pilih sendiri untuk memimpin saya. Tentu saja ada ilmunya. Bagi Anda yang tertarik untuk belajar memilih dan menentukan siapa atasan yang tepat untuk dirinya, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Hindari mengambil kesimpulan dari kesan pertama. Dalam wawancara, calon atasan yang tertarik kepada Anda tentu berusaha menampilkan kesan positif agar Anda mau bergabung dengan teamnya. Banyak orang terjebak dengan kesan pertama pada pertemuan dengan calon atasannya. Tidak sedikit yang menyesal telah pindah dari perusahaan lama, lalu menyesal karena ternyata di perusahaan baru dia tidak cocok dengan gaya memimpin atasan barunya. Kesan pertama itu penting, tapi tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Hindarilah mengambil kesimpulan tentang kecocokan Anda dengan calon atasan hanya dari kesan yang muncul pada pertemuan pertama dalam wawancara.
2. Ikuti rapat yang dipimpinnya. Rapat adalah tempat yang tepat untuk menilai gaya memimpin calon atasan Anda. Dalam rapat itu, Anda bisa mendapatkan gambaran bagaimana calon atasan memperlakukan bawahannya. Apakah dia bersedia mendengarkan pendapat bawahannya. Apakah dia menerima gagasan-gagasan bawahannya. Apakah dia terbuka dengan masukan bawahannya. Apakah dia menghargai bawahannya. Kata-katanya, sorot matanya, nada suaranya, cara menyampaikan gagasannya, cara mengambil keputusannya; bisa Anda kenali dalam rapat kerja dengan bawahanya. Rapat bisa menjadi potongan adegan yang mewakili film perjalanan calon atasan dalam memimpin anak buahnya. Cobalah cari peluang untuk mengikuti rapat calon atasan Anda dengan para anak buahnya.
3. Cari informasi dari para bawahannya. Berusahalah untuk mengenali beberapa anak buah calon atasan Anda. Ajaklah makan siang lalu berbicaralah tentang pengalamannya bekerja di team yang dipimpin oleh calon atasan Anda. Sudut pandang beberapa anak buahnya bisa memberi gambaran bagaimana calon atasan Anda memperlakukan anak buahnya, dan bagaimana bentuk kecocokan interaksi diantara mereka. Anda pun bisa memperkirakan bentuk hubungan seperti apa yang akan terjalin antara Anda dengan calon atasan Anda; dengan mengolah informasi yang Anda dapatkan dari para bawahannya.
4. Renungkan kembali hubungan Anda dengan atasan sekarang. Banyak orang yang sudah terlanjur ‘mengganti atasan’ lalu menyesal dengan atasan barunya yang ternyata tidak lebih baik dari atasan lama yang ditinggalkannya. Sebelum Anda mengambil keputusan untuk mencari atasan lain, renungkanlah kembali; apakah hubungan Anda dengan atasan sekarang itu sudah sedemikian buruknya? Benarkah gaya kepemimpinan atasan Anda itu sudah sedemikian menyebalkannya? Atau mungkin, Anda sendirilah yang belum benar-benar memahami dan menyesuaikan diri dengannya.
5. Bertanya kepada Tuhan. Tidak ada yang benar-benar mengetahui rahasia perangai dan perilaku asli seseorang selain Tuhannya. Tuhan Anda adalah Tuhan yang sama dengan calon atasan Anda. Maka tanyakanlah kepada-Nya apakah dia benar-benar atasan yang tepat bagi Anda. Pejamkanlah mata. Tengadahkanlah telapak tangan. Bisikanlah permohonan;”Tuhan, tolong tunjukkan kepadaku apakah dia benar-benar bisa menjadi atasan yang tepat bagiku…..” Rasakan getaran hati Anda. Fahami tanda-tanda yang terjadi setelah doa itu. Dan tentukanlah pilihan Anda.
Anda memiliki kemerdekaan untuk memilih atasan. Gunakan kemerdekaan itu sebaik-baiknya sehingga Anda bisa memiliki atasan yang benar-benar mendekati harapan-harapan ideal Anda. Gunakanlah kemerdekaan itu, untuk merenungkan kembali; boleh jadi masalahnya bukan pada atasan, melainkan pada diri Anda sendiri. Gunakanlah kemerdekaan itu untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan atasan Anda. Baik atasan yang sekarang, maupun atasan di masa depan.
Seseorang yang mampu memilih siapa atasannya adalah orang yang benar-benar berdaya. Maka berdayakanlah diri Anda sehingga mampu memegang kendali atas hidup Anda sendiri.
Menerima Diri Kita Apa Adanya
By : Dadang kadarusman
I love you just the way you are, itulah yang kita katakan kepada seseorang yang kita cintai dengan sepenuh hati. Ciri jika kita menerima kekasih hati apa adanya antara lain adalah; tidak mempermasalahkan kekurangan yang dimilikinya, dan mensyukuri kelebihannya. Meski mempunyai kelemahan, namun perasaan sayang kita tidak berkurang kepadanya. Saat mengkritik pun kita usahakan agar tetap halus agar perasaannya senantiasa terpelihara. Dengan begitu, kita berharap dia membalasnya dengan cinta yang setara kepada kita. Lantas, kepada diri sendiri; apakah kita bersedia mengatakan kalimat indah itu? Artinya, bersediakah kita untuk menerima diri kita sendiri apa adanya?
Mencintai diri sendiri sama pentingnya dengan mencintai pujaan hati kita. Sedangkan hal terindah dalam mencinta adalah ketika kedua belah pihak saling berbalas cinta sejatinya. Bayangkan jika kita telah berhasil mencintai diri kita sendiri, maka ‘diri kita’ pun akan membalas cinta kita dengan seutuhnya. Cinta kepada diri sendiri bukanlah roman picisan. Bukan pula kisah nascistis. Melainkan sebuah penerimaan kepada ada adanya kita. Yaitu penerimaan secara sadar bahwa fitrah kita adalah untuk menjadi mahluk yang disukai oleh Tuhan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menerima diri kita apa adanya; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Kita adalah sesempurna-sempurnanya penciptaan. Dengan tubuh yang kurus dan kerempeng, masa kecil saya diwarnai oleh cemoohan. ‘Siga aki-aki’ – ‘seperti kakek-kakek’ – adalah sebutan paling tepat bagi teman-teman untuk menggambarkan bentuk fisik saya. Karena selain kerempeng, saya juga dianugerahi dengan tulang punggung ‘bungkuk udang’. Melihat orang lain yang memiliki bentuk fisik yang jauh lebih baik, kadang saya merasa iri. Untungnya kita semua pernah mengakui bahwa sempurnanya kita sebagai manusia tidak diukur dari bentuk fisiknya, karena jika demikian; kita kalah sempurna dibanding binatang. Ada aqal yang menyertai penciptaan kita. Lebih dari itu, ada qalbu untuk mengimbangi fungsi aqal itu. Sekarang saya lebih memahami bahwa dengan menggunakan aqal dan qalbu itulah seorang manusia bisa mencapai kesempurnaan penciptaan yang telah diperolehnya. Sebab, memang kita ini adalah sesempurna-sempurnanya penciptaan.
2. Hasil karya kita adalah bukti kesempurnaan diri kita. ‘Karya apa yang sudah engkau hasilkan?’ Inilah pertanyaan yang sering mendatangi saya setiap kali menjelang tidur. Pertanyaan inilah juga yang sering membangunkan saya dari tidur dimalam senyap ketika sebagian besar orang nyenyak terlelap. Jika setiap manusia berhasil memenuhi misinya saat dikirim Tuhan, dunia pasti menjadi tempat yang lebih baik. Mereka yang dianugerahi kelapangan rezeki berkarya dengan rezekinya untuk memudahkan orang-orang yang membutuhkan. Mereka yang berilmu membuat karya-karya berkualitas dengan ilmunya bagi mereka yang haus pencerahan. Mereka yang kuat, mereka yang ramah, mereka yang tinggi, dan mereka yang rendah. Semuanya pasti bisa menghasilkan sebuah karya karena tak seorang pun lahir tanpa kemampuan untuk berbuat. Bahkan, saya melihat seseorang yang dilahirkan tanpa tangan dan kaki sanggup menghasilkan sebuah karya inspiratif yang menyadarkan jutaan umat manusia, bahwa; anugerah Tuhan sungguh tiada terhingga.
3. Ada sisi baik didalam diri kita. Guru kehidupan saya mengajarkan bahwa kedalam diri seseorang Tuhan telah mengilhamkan kecenderungan untuk berbuat kebaikan. Tapi mengapa ada orang yang seolah hidupnya diisi oleh hal-hal negatif saja? Mungkin karena kita tidak pernah melihat orang itu saat dia sedang melakukan kebaikan. Atau, boleh jadi karena kita tidak berhasil membantunya menemukan sisi baik didalam dirinya. Atau, boleh jadi juga karena kita yang tinggal bersamanya tidak memberi cukup ruang kepadanya untuk memperlihatkan sisi baiknya. Bagaimana jika orang itu adalah diri kita sendiri? Bersediakah kita melihat saat diri kita berbuat baik? Bersediakah kita membantu diri kita sendiri untuk menjadi baik? Dan bersediakah kita untuk memberi ruang yang cukup agar diri kita sendiri bisa leluasa; untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik? Sungguh, siapapun kita; ada sisi baik didalam diri kita.
4. Mengijinkan orang lain berbuat baik kepada kita. Apa jadinya jika didunia ini tidak ada lagi orang yang mengijinkan orang lain untuk berbuat kebaikan? Bayangkan, jika senyum itu baik; maka kita dilarang untuk tersenyum. Jika saling menasihati itu baik, kita dilarang saling menasihati. Jika menghormati pendapat orang lain itu baik, maka kita dilarang untuk menghormati pendapat orang lain. Bagaimana jadinya ya? Saya menemukan bahwa manusia, memiliki sifat dasar untuk mengijinkan orang lain berbuat baik kepada mereka. Makanya, kita senang saat seseorang tersenyum kepada kita. Kita juga senang saat seseorang mengingatkan tentang sesuatu yang tidak patut pada perilaku kita. Dan kita juga senang ketika orang lain menghormati pendapat kita. Kita senang saat orang lain berbuat baik kepada kita. Dengan rasa senang itu, kemudian kita membalas kebaikan mereka sama seperti perlakuan baik mereka kepada kita. Bukankah indah dunia jadinya?
5. Memberi ruang kepada diri sendiri untuk melakukan perbaikan. Manusia adalah tempatnya salah dan alpa. Maka wajar jika manusia melakukan kesalahan atau kesilapan. Yang tidak wajar adalah ketika menyadari sudah melakukan kesalahan masih terus berendam dalam kubangan nista itu. Padahal, Tuhan pun berjanji untuk selalu memberi ruang kepada orang-orang yang ingin kembali. Masalahnya, maukah kita mengambil putaran untuk berbalik arah menuju kepada jalan yang disukai Tuhan? Jika kita tidak mau, maka tidak seorang pun bisa memaksa kita. Nasihat dan seruan tidak mungkin akan kita indahkan. Karena jika pintu hati kita tertutup rapat, maka kita tidak akan pernah mampu memberi ruang kepada diri sendiri untuk melakukan perbaikan.
Kita apa adanya adalah diri kita, yang memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk menjalani hidup dengan baik. Menerima diri kita apa adanya adalah merenungkan betapa Tuhan telah menganugerahi kita dengan kesempurnaan penciptaan; sehingga kita sadar bahwa tidak ada sedikitpun celah untuk mengeluh. Jika masih ada keluh itu, mungkin karena kita terlalu berfokus kepada wujud fisik dan jasad kasar. Padahal, ketika menyebut diri sebagai mahluk sempurna; manusia tidak merujuk kepada kekuatan fisiknya, melainkan ‘isi’ didalam dirinya. Sebagai manusia, kita bisa salah – bisa benar. Dan sebagai manusia, kita memiliki sisi baik, dan sisi buruk. Sebagai manusia, kita juga mempunyai sisi lemah dan sisi kuat. Tak seorang pun bisa mencapai kesempurnaan sendirian. Karena kesempurnaan manusia terletak kepada kemauan untuk saling menyokong. Dan saling mengingatkan satu sama lain, bahwa; ada sesuatu yang bisa kita perbaiki dari hari ke hari.
Menemukan sisi baik dalam diri sendiri adalah wujud rasa syukur kepada penciptanya. Sedangkan menggunakan kebaikan didalam diri itu untuk kebaikan sesama adalah pesta perayaannya.
Menikmati Saat-Saat Kita ’Merasa’ Dijadikan Sebagai Bumper
by : Dadang Kadarusman
“$#!^!, gua melulu yang dijadikan bumper!” Ini adalah umpatan yang cukup sering kita dengar. Rupanya banyak juga ya orang yang ‘merasa’ dirinya dijadikan sebagai bumper bagi kepentingan pihak lain. Selama ini, saya tidak benar-benar memahami makna umpatan itu. Tetapi tadi malam, saya mendapatkan ‘penjelasan’ yang terang benderang. Saya dalam perjalanan pulang dari sebuah sesi training di Bandung ketika di kilometer 66 tol Cikampek mobil di depan saya mengerem mendadak. Dia melakukan itu karena truck raksasa didepannya mengerem mendadak. Dan saya yakin, truck itu mengerem mendadak karena kendaraan didepannya juga mengerem mendadak. Semua mobil yang kompak mengerem mendadak didepan saya itu selamat dari hantaman mobil dibelakangnya. Sayang, mobil saya ditabrak oleh mobil lain di belakang saya. Benturan keras itu menimbulkan kerusakan berat di bumper belakang mobil saya.
Sekarang, saya mulai bisa memahami apa yang dirasakan oleh mereka yang ‘merasa’ dirinya dijadikan sebagai bumper. Mereka ‘merasa’ dirinya harus menanggung resiko dan kesulitan untuk melindungi orang atau pihak lain. Boleh jadi sebenarnya saya juga pernah diposisikan seperti itu. Mungkin, Anda juga demikian. Kita semua sama-sama pernah berada pada posisi sebagai bumper itu. Bedanya, ada orang yang ‘merasa’ dan ada yang ‘tidak merasa’. Oleh sebab itu, kita perlu belajar untuk menikmatinya. Jika tidak, maka kita akan ‘merasa’ sangat tersiksa. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menikmati saat-saat menjadi bumper; saya ajak untuk memulainya dengan merenungkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Ikhlas menerima peran yang memang seharusnya kita mainkan. Saya memandang bumper mobil itu dengan perasaan sayang. Apa yang akan dia katakan seandainya bisa bicara? Apakah dia akan mengeluhkan perannya? “Mengapa aku yang harus menanggung sakit ini, sedangkan jok kulit itu enak-enakan bertengger di ruang ber-AC!” Setelah mengerahkan seluruh daya imajinasi yang saya miliki, saya menyimpulkan bahwa sang bumper tidak mengeluh seperti itu. Bersama baut, roda, tuas transmisi, pedal gas, lampu, serta semua komponen pembentuk mobil itu dia telah memahami perannya masing-masing. Mereka faham apa yang menjadi bagian tanggungjawabnya, serta resiko yang harus dipikulnya. Maka ketika resiko itu terjadi, mereka tidak mengeluhkannya sama sekali. Pedal gas tidak pernah mengeluh sekalipun diinjak-injak. Roda tidak kesal karena harus terus berlari sepanjang perjalanan yang tanpa henti. Mesin tidak mengomel sekalipun selalu berada pada tempat yang paling panas. Dan bumper itu? Menerima dengan ikhlas ketika perannya sedang sangat dibutuhkan. Malam itu, saya mendapatkan pelajaran bahwa setiap orang memiliki peran dan fungsi masing-masing. Selama kita ikhlas menerima peran itu, maka kita akan dapat menikmatinya.
2. Setiap peran dan tindakan pasti ada perhitungannya. Pagi-pagi sekali, saya mendatangi bumper itu. Lalu mengelusnya dengan lembut, dan saya katakan;”Terimakasih, kamu telah menyelamatkan jiwa kami….” Itulah ‘reward’ terbaik yang bisa saya berikan. Tidak lebih. Karena bahkan bengkel pun tidak akan bisa mengembalikan bentuknya. Selesai sudah perjalanan hidupnya. Manusia, jauh lebih beruntung daripada benda-benda. Karena setelah ‘selesai’ menunaikan tugasnya, setiap insan akan memasuki ‘dunia baru’ dimana disana setiap peran dan tindakan yang kita mainkan diperhitungkan. Orang-orang yang telah secara ikhlas memainkan peran dan tanggunjawabnya pasti akan mendapatkan pahala yang memuaskan. Sedangkan mereka yang menggerutu atau melarikan diri dari tanggungjawabnya pasti akan ditanya;”mengapa kamu begitu?”. Dunia hanyalah sekedar persinggahan bagi kita. Disini, kita hanya sekedar berhenti sebentar untuk mengumpulkan cukup bekal. Agar di kehidupan berikutnya, kita bisa tinggal dengan nyaman dan menyenangkan.
3. Periksa apakah Anda sudah berada posisi yang seharusnya. Ikhlas, tidak sama artinya dengan selalu menerima apapun yang ditimpakan kepada kita. Ikhlas berarti bertanggungjawab penuh terhadap fungsi dan peran yang sepatutnya kita mainkan. Dan ikhlas, juga berarti menempatkan segala sesuatu pada posisi dan proporsinya masing-masing. Saya membayangkan jika bumper itu ditukar posisinya dengan stir pengendali kemudi. Atau sebaliknya. Tentu mobil itu tidak lagi bisa berfungsi. Begitu juga halnya kita. Jika fungsi dan peran kita adalah sebagai bumper, maka tidak fair jika kita iri pada fungsi orang lain yang kita pandang ‘lebih enak’. Tetapi, jika peran kita sebagai baut, namun difungsikan sebagai bumper; maka kita berhak untuk menolak. Bukan menolak karena kita tidak menyukainya, melainkan karena fungsi kita tidak akan pernah optimal jika diposisikan tidak pada tempatnya. Maka jika Anda masih ‘merasa’ sering dijadikan sebagai bumper, ada baiknya juga untuk melihat dimana sebenarnya posisi Anda. Jika memang itulah posisi Anda, maka ikhlasnya Anda berarti menerima kenyataan bahwa memang Anda adalah bumper. Jika posisi Anda bukan bumper, maka ikhlas bagi Anda adalah untuk mengingatkan ‘sang pemilik mobil’ bahwa Anda bisa berkontribusi optimal pada tempat dimana Anda seharusnya berada.
4. Memasang penyerap guncangan bagi jiwa kita. Makna harafiah dari kata ‘bumper’ adalah ‘shock absorber’. Merenungkan makna ini saya menjadi ingat tentang betapa banyaknya hal yang bisa membuat jiwa kita shock. Kabar yang tidak kita inginkan, perlakukan yang mengecewakan, kehilangan sesuatu yang kita sayangi; adalah beberapa contoh peristiwa yang bisa mengguncangkan jiwa kita. Ada orang yang sedemikian terguncangnya hingga kehilangan akal sehat. Ada yang terus tenggelam dalam guncangan itu hingga tidak lagi memiliki semangat. Namun, ada pula orang-orang yang setelah diterpa berbagai persoalan; tetap tangguh dan tegar. Apa yang membedakannya? Mereka yang tegar itu memiliki penyerap guncangan bagi jiwanya. Mereka memasang jenis penyerap guncangan yang paling bisa diandalkan. Tahukah Anda apakah gerangan itu? Brand terbaik untuk bumper depan adalah ‘sabar’. Sedangkan bumper belakang yang paling handal adalah ‘tawakal’. Hanya dengan dua jenis ‘shock absorber itulah kita bisa menjaga agar jiwa kita tetap terlindung dari pengaruh buruk yang menyesakkan.
5. Kita dilindungi oleh bumper yang tangguh dan tidak pernah lengah. Fungsi utama sebuah bumper adalah untuk melindungi mobil dari kerusakan dan resiko yang membahayakan. Maka sebuah bumper harus sanggup melindunginya sepanjang waktu tanpa sedetikpun lengah. Sayangnya, bumper mobil itu memiliki kelemahan, yaitu; kekuatannya yang terbatas. Selain dia sendiri bisa hancur, mungkin ada bagian body mobil lainnya yang tidak terlindung. Kita semua sungguh sangat beruntung karena memiliki pelindung yang selain sangat kuat, juga tidak pernah sedetikpun berhenti menjaga kita. Masih ingatkah Anda siapa pelindung kita itu? Dia adalah Dzat yang tidak pernah tidur. Dia adalah sang pemilik segala kekuatan. Dan Dia, adalah sang pemilik hidup dan mati setiap mahluk. Mobil kesayangan Anda, mungkin menggunakan bumper tambahan yang selain berfungsi sebagai penguat, juga menjadi asesoris penghias yang indah. Kepada diri sendiri, bersediakah kita untuk menjadikan Dia yang maha pelindung sebagai penjaga dan penghias hidup kita?
Setiap detik dalam hidup kita adalah kombinasi agung dari resiko dan kesempatan. Setiap detik dalam hidup kita adalah kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tetapi, pada detik yang sama juga tersimpan kemungkinan kesedihan, bahkan kematian. Bisakah kita memohon keselamatan dan kebahagiaan selain kepada Tuhan? Dengan kata lain; Adakah pelindung yang lebih baik selain Allah? Tidak. Dialah Tuhan yang hanya satu. Dan satu-satunya yang bisa menjawab doa-doa kita. Dan Dialah satu-satunya yang layak kita sembah. Dialah sebaik-baiknya pelindung; dalam setiap detak detik-detik, yang kita lalui. Yuk, kita berserah diri hanya kepadaNya saja…..
Beruntunglah mereka yang bersedia menjadikan Tuhan sebagai pelindung utamanya. Karena Dialah Yang Maha Perkasa. Dan Dialah Yang Maha Terjaga.
Pertanyaan Paling Sulit Tentang Pernikahan
by : Dadang Kadarusman
Salah satu pertanyaan paling sulit yang saya dapatkan adalah ini;”Bagaimana mempertahankan pernikahan kami?” Sampai sekarang pun saya belum tahu harus menjawab apa, soalnya pernikahan kami sendiri baru berumur 14 tahun lebih sedikit. Masih terlalu dini untuk bisa menjawab pertanyaan itu berdasarkan pengalaman kami sendiri. Sebenarnya saya bisa saja menjawabnya secara ‘teoritis’. Toh sang penanya tidak tahu bagaimana saya menjalani kehidupan pernikahan kami. Tetapi, lha kok rasanya kurang afdol ya? Bagaimana jadinya jika teori yang saya gunakan itu, ternyata benar-benar ‘hanya sebatas teori’ saja. Bagaimana seandainya ternyata suatu saat nanti saya tidak berhasil melewati masa-masa sulit dalam kehidupan rumah tangga kami. Bagaimana seandainya kami…..
Akhirnya saya memilih untuk ‘tidak menjawab’ pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebab setelah cukup lama bersemedi pun ternyata saya tidak memiliki kemantapan hati untuk berani menjawabnya. Kalau pun saya harus menjawabnya, saya harus melakukannya berdua dengan istri saya. Dan jika kami jadi menjawabnya, maka kami terikat oleh sebuah kewajiban untuk melakukan apa yang kami katakan kepada orang lain. Padahal, jika kami menghadapi badai yang sama; belum tentu kami pun berhasil melewatinya. Walhasil, daripada menjawab pertanyaan itu; saya lebih memilih untuk berceloteh saja tentang apa yang sedang saya dan istri saya pelajari saat ini dalam pernikahan kami. Bagi Anda yang tertarik menemani kami belajar menjaga bahtera pernikahan ini; saya ajak untuk memulainya dengan merenungkan 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Mengingat saat pertama kali jatuh cinta. Saat jatuh cinta pertama kali kepadanya adalah salah satu saat terindah dalam hidup saya. Seperti serum saja, didalam darah saya terkandung nuansa romansa itu. Dan serum inilah yang sering menolong saya menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan pernikahan kami. Setiap kali saya memerlukan penyegaran atas cinta dan kehidupan rumah tangga kami, saya berusaha untuk mengingat saat-saat pertama kali kami jatuh cinta. Mengingat hal itu, rasanya setiap kekesalan dan kekecewaan mencair begitu saja. Dalam sekejap saya sudah bisa merasakan gelora itu lagi. Persis seperti pertama kali saya melihatnya. Persis seperti ketika saya bertekad; tidak ada perempuan lain yang lebih saya inginkan selain dirinya.
2. Mengikrarkan cinta saat dia tidak mendengarnya. Rajin-rajinlah mengucapkan kata ‘cinta’ ditelinganya. Begitulah nasihatnya. Saya tidak terlalu percaya itu. Faktanya, sering sekali kata cinta itu hambar rasanya. Terutama ketika kita mengucapkannya tidak sambil membawa ketulusan hati. Saya memilih untuk lebih banyak mengikrarkan cinta justru pada saat istri saya tidak mendengarnya. Ketika dia sedang bergaya didepan cermin, saya berbisik didalam hati;”Damn, I love her sooo much!”. Saat dia sedang senyum-senyum didepan blackberry, saya bergumam sendiri;”Saya sangat mencintainya…” Waktu dia cemberut, hati saya berkata;”dia semakin menggairahkan saat bibirnya manyun begitu…”
3. Berterimakasih atas penerimaannya. Jujur saja, saya belum tentu merupakan lelaki terbaik untuk belahan jiwa saya. Dia bisa saja mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada saya. Tetapi, dia menerima saya. Mengijinkan saya untuk mengobral rayuan gombal dibungkus kata cinta yang klise itu. Membiarkan saya melamarnya dengan gaya koboy. Mengangguk ketika saya mengajaknya untuk menikah. Menandatangai surat nikah itu. Mengikuti kemana saja saya membawanya pergi meski lebih banyak susahnya daripada senangnya. Sungguh, dia bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini. Maka tak pernah lekang rasa terimakasih saya kepadanya atas semua penerimaan yang telah diberikannya kepada saya. Saya lebih sering terjaga dimalam hari daripada dirinya. Sehingga saya memiliki kesempatan untuk menatap wajahnya ketika sedang terlelap. Memandangnya, sungguh membuat hati saya tersentuh. Sambil mengecup keningnya, saya berterimakasih kepadanya. Atas penerimaan yang telah diberikannya kepada saya.
4. Ganti ‘tak kenal maka tak sayang’ dengan ‘semakin kenal semakin sayang’. Tak kenal maka tak sayang. Itu benar. Tetapi, banyak juga pasangan yang justru bercerai setelah satu sama lain saling mengenal. “Sekarang saya tahu siapa dia sesungguhnya,” adalah kalimat yang sering kita dengar di infotainmen saat sedang mengeksploitasi pasangan yang sedang bermasalah. Makanya, dalam konteks pernikahan pepatah itu tidak cocok. Ganti pepatah itu menjadi ‘semakin kenal semakin sayang’. Sebelum menikah, kita tidak tahu kalau dia tidurnya mengorok. Kita juga tidak tahu jika dia suka melempar handuk sembarangan. Atau menyimpan pakaian kotor dilantai. Kita, tidak tahu tentang semua hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setelah menikah, kita mengetahui lebih banyak hal. Seandainya saja ‘semakin kenal kita semakin sayang’, maka mungkin cinta kita semakin hari semakin bertambah murni.
5. Percaya kepada diri sendiri. Awalnya, saya menuruti nasihat untuk ‘memberi kepercayaan kepada pasangan’. Sebab katanya, jika kita memberi kepercayaan itu, maka dia pasti menjaganya dengan baik. Tetapi kemudian saya merasa hal itu malah menempatkan dirinya pada sebuah tuntutan untuk ‘bisa saya percaya’. Padahal saya percaya bahwa ‘cinta’ bukan soal tuntutan kepada orang yang kita cintai; melainkan memberikan komitmen kita kepada dirinya. Makanya, titik berat saya sekarang bukanlah menuntut dirinya untuk menjaga kepercayaan yang saya berikan, melainkan menjaga kepercayaan saya kepada diri saya sendiri. Yaitu; saya ‘percaya kepada diri saya sendiri’ bahwa saya dapat menjaga kesucian cinta kami. Jika saya sampai merusak kepercayaan itu, maka saya sendiri mengetahuinya. Dan saya tidak sedang mengkhianati siapapun selain diri saya sendiri. Tidak fair jika saya menuntut soul mate saya untuk mempercayai saya, jika dihadapan diri sendiri saja ternyata saya tidak bisa dipercaya. Maka sebelum memintanya untuk percaya kepada saya, sekarang saya belajar untuk terlebih dahulu memberi diri saya sendiri kepercayaan itu.
Sungguh, saya tidak tahu akan menjadi seperti apakah perjalanan pernikahan kami. Namun dengan ke-5 hal itu saya menjadi lebih tentram. Bahkan saya masih tenang ketika di HP-nya ada SMS gombal dari para lelaki culas. Apalagi setelah kita memasuki era blackberry. Didunia ini banyak sekali lelaki yang gemar menggoda istri orang dengan menyalahgunakan anugerah teknologi yang Tuhan titipkan ditangannya. Saya tahu itu karena istri saya sesekali menunjukkan pesan-pesan di blackberry-nya yang tidak senonoh. Kadang kami menjadikannya sebagai bahan candaan. Malah ada diantara para lelaki itu yang saya tahu persis siapa orangnya. Bahkan di fitness center, saya mengenal seorang lelaki yang dia tidak tahu jika saya tahu kata-kata apa yang dikirimkannya kepada blackberry istri saya. Alih-alih emosi, saya malah kasihan kepadanya. Kasihan, sudah setua itu masih saja mengumbar nafsu hewani. Jadi;”Bagaimana mempertahankan pernikahan kami?” Saya tidak tahu. Tetapi, semoga celoteh ini bisa mengkompensasi ketidakmampuan saya dalam menjawabnya.
Tidak ada yang mengetahui akan menjadi seperti apa perjalanan perkawinannya. Namun, jika sesuatu yang buruk terjadi, kita perlu memastikan bahwa bukan kita penyebabnya
Apakah Pengalaman Bisa Dibeli?
by : Dadang Kadarusman
Ya, apakah pengalaman bisa dibeli? Tidak, jika kita membelinya dengan uang. Karena, money can’t buy everything. Tetapi, apakah pengalaman memang bisa dibeli? Bisa, jika kita membelinya dengan alat pembayaran yang tepat. Jika bukan dengan uang, dengan apa membayarnya? Alat pembayaran itu bernama;’melakukan’ alias ‘mengajalaninya’ sendiri. Jika Anda pernah melakukan sesuatu, maka Anda bisa memiliki pengalaman itu. Jika Anda menjalani suatu peristiwa, maka Anda menjadi berpengalaman dengan peristiwa itu. Sesederhana itu. Sekalipun sederhana, tidak mudah untuk membangun pengalaman yang bernilai tinggi. Karena pengalaman yang buruk, berbeda dengan pengalaman yang baik. Dua orang yang sama-sama telah menjalani sesuatu selama 10 tahun belum tentu memiliki keterampilan yang sama baiknya, misalnya. Apa yang membedakan keduanya?
Dalam sebuah film documenter, sekelompok gajah menjelajah padang tandus Afrika ditengah terik matahari musim kemarau yang panjang. Mereka berpindah dari satu kolam kering ke kolam berikutnya yang masih menyisakan genangan air. Suatu hari, pemimpin mereka menghilang secara misterius, sehingga seluruh keluarga kebingungan. Pada situasi sulit itu, tampillah gajah lainnya yang mengambil tanggungjawab kepemimpinan. Waktu tempuh menuju sumber air itu pun menjadi semakin panjang berkali-kali lipat. Meskipun gajah pengganti itu sama besarnya, namun pengalamannya tidak sebanding dengan gajah pemimpin mereka. Sama persis seperti kehidupan karir kita. Nama besar kita tidak berbanding lurus dengan ukuran badan, atau lamanya kita berada pada situasi tertentu; melainkan dengan besarnya pengalaman kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar membesarkan pengalaman; saya ajak untuk memulainya dengan memahami dan melakukan 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1. Textbook hanya bisa memuaskan lapar intelektual. Ketika sang pemimpin menghilang begitu saja, semua gajah menjadi kebingungan. Mereka terdiam tanpa tahu kemana arah yang harus mereka ambil untuk menuju oasis baru. Bertanya? Kepada siapa? Membaca? Atas buku apa? Manusia beruntung karena bisa bertanya. Manusia juga beruntung karena bisa membaca buku. Namun dibalik keuntungan itu, manusia menghadapi resiko besar. Jika bertanya, belum tentu orang yang ditanya tahu jawabannya. Dan jika membaca textbook, belum tentu textbook itu sejalan dengan realitas hidup. Lewat textbook kita hanya bisa memuaskan lapar intelektual. Namun kita tidak bisa merasakannya dengan hati, kulit, tangan, kaki, keringat, atau air mata. Padahal pengalaman adalah tentang sensasi yang pernah dirasakan oleh sekujur tubuh kita. Jadi, bacalah textbook. Tetapi jangan terlalu cepat puas dengan isinya.
2. Pengalaman tidak bisa didelegasikan. Banyak orang yang terlalu sering mendelegasikan hal-hal penting kepada orang lain. Lebih parahnya lagi, banyak anak buah yang ‘mendelegasi’ tugas-tugas penting kepada atasannya. Lho, kok bisa? Ya bisa. Jika ada tugas penting, mereka tidak mengambil tanggungjawab. Nanti saja kalau sudah ada atasan; ‘itu bukan tanggungjawab saya’. Atau, ‘gaji saya tidak termasuk mengerjakan tugas itu’. Kalau ada penugasan penting, sebisa mungkin menghindar saja. Biarkah teman lain yang menanganinya. Padahal, ada aspek-aspek kritis dalam jabatan dan posisi kita yang harus kita ambil peluangnya untuk menjadi pengalaman berharga. Sekalipun ada banyak orang dalam satu level jabatan, tetapi kita selalu bisa menemukan salah satu dari mereka yang mengungguli kolega lainnya. Keunggulan itu pasti tidak didapatkannya dengan mendelegasikan kepada orang lain, melainkan dari ‘mengalaminya’ sendiri. Jadi pupuklah pengalaman sebanyak dan sebaik mungkin. Karena pengalaman tidak bisa didelegasikan.
3. Bayarlah harganya secara penuh. Anda tidak bisa membeli setengah perangkat pesawat televisi, misalnya. Atau setengah tube pasta gigi. Anda harus membeli ‘1 unit’ dengan harga penuh. Anda yang hanya mau membeli setengahnya jangan harap bisa mendapatkannya. ‘Take it all, or leave it alone’. Untuk membeli sebuah pengalaman tidak mesti begitu. Kita boleh membeli ‘sebagiannya’ atau ‘seutuhnya’. Terserah Anda. Jika Anda hanya ingin ‘seperempatnya’ saja juga boleh. Anda bisa mendapatkannya hanya dengan ‘titel jabatan Anda’ tanpa melakukan hal-hal bermakna selama menduduki jabatan itu. Makanya ada orang-orang yang sudah bertahun-tahun menduduki jabatan penting tertentu tetapi kualitas dirinya tidak mencerminkan tingginya jabatan yang disandangnya. Atau, Anda bisa membelinya secara penuh. Caranya? Manfaatkanlah jabatan atau posisi apapun Anda saat ini untuk melakukan tindakan-tindakan yang bernilai tinggi. Baguskan prestasi Anda. Sempurnakan kualiatas kerja Anda. Maka Anda akan mendapatkan pengalaman itu seutuhnya. Karena hanya dengan semua hal itu Anda bisa membayar harganya secara penuh.
4. Pengalaman berharga seringkali ada di tempat lain. Coba perhatikan betapa banyak orang yang hanya melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang hingga belasan atau puluhan tahun. Salahkah itu? Tidak salah jika memang ingin membangun keahlian dibidang itu saja sampai masa pensiun tiba. Tetapi jika ada perasaan bosan, atau menginginkan hal lain padahal masih ngendon saja diposisi yang sama; pasti ada yang salah. “Masalahnya saya tidak diberi kesempatan untuk pindah departemen,” ini adalah alasan klise yang sering kita dengar. Itukah yang menghalangi kita dari pengalaman berharga untuk meningkatkan kapasitas diri kita? Tidak. Sejauh yang saya tahu, jika kita bersedia bekerja extra, memberi lebih banyak waktu, bekerjasama dengan orang lain, membuka diri dengan penugasan dan pekerjaan baru, mengulurkan tangan untuk menawarkan bantuan; maka kita punya kesempatan yang sama untuk ‘membeli’ pengalaman itu. Dengan cara itu, kita bisa belajar dan mengembangkan diri lebih cepat dan lebih luas dibandingkan kolega-kolega kita yang lainnya.
5. Nikmati saat menjalani keadaan yang paling menyulitkan. Tidak disangka-sangka, pemimpin gajah itu datang lagi. Setelah semua kesulitan yang dialami oleh semua anggota kelompok, dia datang sama misteriusnya dengan ketika dia menghilang. Semua anggota kelompok sekarang kembali bersuka cita. Tetapi, pemimpin gajah itulah yang paling bahagia. Karena sekarang dia memiliki calon pengganti yang bisa diandalkannya jika suatu saat nanti dia harus benar-benar ‘pergi’. Tidak disangka, seekor gajah pun memahami makna suksesi. Dia tahu jika pemimpin pengganti haruslah gajah yang kemampuan memimpinnya sudah teruji. Saat dia tahu kebanyakan gajah sering bersembunyi dibalik ketiak pemimpinnya, dia pergi sebelum sampai di oasis yang baru. Dengan cara itulah calon pemimpin berikutnya menunjukkan kemampuannya dihadapan para gajah lain yang hanya cocok untuk menjadi pengikut saja. Dalam karir, mungkin Anda menghadapi masa-masa sulit. Bahkan atasan Anda membiarkan kesulitan itu melumatkan sekujur tubuh dan meremukkan tulang belulang Anda. Janganlah menyalahkan atasan Anda. Karena boleh jadi, sesungguhnya Anda sedang diawasi oleh mata yang tidak terlihat. Apakah Anda berhasil melewati kesulitan itu, atau tidak.
Kita sering keliru mengukur pengalaman dengan ‘berapa lama’ waktu yang dihabiskan untuk menangani suatu jabatan tertentu. Padahal, waktu sama sekali tidak berbicara lain selain seberapa banyak kesempatan yang kita sia-siakan, ‘atau’ seberapa banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup yang kita hadapi. Hanya mereka yang mau bertindak dan menjalani setiap detik dengan baik sajalah yang mampu menguasai keterampilan dan pengalaman baru dalam waktu singkat. Jadi jika sekarang Anda sedang manghadapi keperjaan yang sulit atau penugasan yang rumit, atau tantangan yang berat; nikmati saja. Boleh jadi sekarang kita sedang berada di ‘bursa pengalaman’, dan kita bisa membelinya dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki.
Pengalaman bukanlah soal tahun-tahun yang kita habiskan untuk berada dalam situasi tertentu, melainkan tentang hikmah, pelajaran, dan keterampilan apa yang kita peroleh ketika menjalaninya.
Haruskah Kita Bersabar Menantikan Masa Depan?
by : Dadang Kadarusman
Kita sering gelisah dengan masa depan; akan menjadi seperti apakah hidup saya nanti? Bahkan kadang kita tergoda untuk bertanya kepada para peramal. Berbagai cara kita tempuh agar bisa tahu apa yang akan terjadi nanti. Kita mengira jika mengetahui masa depan maka kehidupan kita akan semakin baik. Benarkah demikian?
Nabi Khidr mengingatkan jika Musa tidak akan bisa bersabar mengikuti dirinya. Nabi Musa pun menyaksikan tindakan-tindakan aneh Nabi Khidr, sehingga dia tidak lagi bisa membiarkannya. Sebelum berpisah Nabi Khidr menjelaskan, mengapa dia melakukan semua tindakannya. Semuaitu bukanlah kehendaknya, melainkan atas petunjuk Tuhan yang memberinya pengetahuan tentang apa yang akan terjadi dimasa depan. Saya termasuk yang penasaran dengan masa depan. Dan saya, tentu lebih tidak sabar dibandingkan Nabi Musa. Maka bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar bersabar atas rahasia masa depan; saya ajak untuk memulainya dengan memahami dan melakukan 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1. Mengendarai waktu yang menuju ke masa depan. Selain waktu, tidak ada alat transportasi lain yang bisa membawa kita kepada masa depan. Karena waktu bertugas untuk membawa kita menuju kesana. Maka kendarailah waktu. Dan arahkan dia kepada masa depan yang mana Anda ingin menuju. Sebagai sebuah kendaraan, waktu bisa membawa kita kemasa depan yang nyaman, atau menyebalkan. Jika kita menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal yang baik, misalnya. Maka pasti kita akan sampai ke tempat yang baik. Namun jika kita menggunakan waktu untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk, maka cepat atau lambat kita akan dibawanya kepada masa depan yang pasti buruk. Waktu adalah kendaraan yang melekat dalam diri kita. Tidak bisa ditolak. Namun bisa kita kendalikan arahnya, melalui pilihan perilaku dan perbuatan kita dalam detik demi detiknya. Maka apapun yang kita lakukan dalam setiap detak waktu itu, merupakan cara kita dalam memberi arah kepadanya.
2. Belum tentu kita sanggup mengetahui masa depan yang buruk. Tak seorang pun sanggup menerima berita buruk tentang masa depannya. “Setidaknya, saya bisa bersiap-siap,” mungkin begitu kilahnya. Mari kita bertanya kepada diri sendiri; mana yang lebih mungkin terjadi jika kita diperkenankan untuk mengetahui masa depan kita yang buruk. Apakah kita akan tabah, atau malah semakin gelisah? Saya tidak yakin jika kita akan semakin tabah. Boleh jadi malah kita tergoda menyalahkan nasib; mengapa harus seperti ini? Mungkin kita menuduh Tuhan tidak adil. Atau, mungkin kita berpikir; jika masa depan gue seburuk itu, ngapain mesti susah-susah menjadi orang yang baik? Jadi orang rusak sekalian saja. Kita, belum tentu sanggup untuk mengetahui masa depan yang buruk. Sehingga membiarkannya tetap menjadi misteri, mungkin jauh lebih baik.
3. Belum tentu kita sanggup mengetahui masa depan yang baik. Kita tahu jika masa depan itu adalah hasil dari masa kini. Apa yang kita lakukan sekarang, sedikit banyaknya menentukan apa yang akan kita dapatkan dimasa depan. Tetapi jika Anda diramalkan akan mendapatkan masa depan yang baik, masihkah Anda bersedia untuk bersusah payah sekarang? Saya tidak yakin. Jika kita sudah tahu ‘akan menjadi orang sukses’ misalnya. Mengapa kita mesti ‘menderita’ sekarang? Bukankah sesuai ramalan kita ‘santai-santai’ pun akan mendapatkan masa depan yang ‘baik’ itu? Sifat dasar manusia adalah untuk mencari kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Jadi jika kita sudah ‘tahu’ masa depan kita akan baik, maka kemungkinan terbesarnya adalah; kita enggan untuk berjuang melintasi jalur-jalur terjal yang menyakitkan. Jika ‘nasib baik’ itu belum juga datang, bisa jadi kita malah menghujat-hujat Tuhan; mengapa Dia terlalu lama menahan semua kebaikan itu? Padahal, apa yang kita lakukan sekarang sangat menentukan apa yang akan kita dapatkan dimasa depan.
4. Mengubah misteri masa depan menjadi kegairahan. Banyak ramalan yang bercerita tentang ini dan itu. Namun kenyataan yang terjadi berbeda sama sekali. Hal itu menunjukkan bahwa tidak seorangpun benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi bahkan sedetik setelah saat ini. Makanya, memaksa masa depan untuk menampakkan dirinya bukan lagi gagasan brilian. Kitalah yang bertanggungjawab untuk membentuk masa depan seperti apa yang kita inginkan. Kitalah yang menentukan akan menjadi seperti apa masa depan kita nantinya. Kitalah yang yang membentuk sosok masa depan diri kita sendiri. Justru karena kita tidak tahu masa depan akan seperti apa; kita termotivasi untuk bekerja keras sekarang. Justru karena tidak tahu apa yang akan terjadi, kita mawas diri kini. Justru karena kita ingin mendapatkan esok yang indah, kita menjadi semakin bergairah. Dan gairah itu akan semakin menggelora, justru ketika kita membiarkan masa depan tetap menjadi misteri.
5. Que sera-sera - whatever will be, will be. Apapun yang akan terjadi, ya terjadilah. Namun sebelum semuanya terjadi, biarkan kami untuk melakukan apapun yang bisa kami lakukan untuk merengkuh seluruh alunan lagu kehidupan dengan semerdu-merdunya. Apapun yang akan terjadi, ya terjadilah. Namun, sebelum semuanya itu terjadi, ijinkan kami untuk melakukan yang terbaik saat ini. Sungguh, tidak seorang pun yang memiliki masa depan. Karena belum tentu umur kita sampai kesana. Tetapi, setiap orang memiliki ‘saat ini’. Maka pada saat inilah kita berpijak. Dan kita boleh menggunakan ‘saat ini’ yang sudah jadi miliki kita untuk melakukan apapun sebaik yang kita bisa. Dan setelah saat ini berlalu, maka apapun yang akan terjadi, ya terjadilah. Karena setelah semua usaha terbaik kita lakukan saat ini, maka tidak ada sedikitpun kekhawatiran akan masa depan. Inilah yang dikatakan oleh guru kehidupan saya tentang makna tawakkal. Yaitu kita melakukan segala sesuatu dengan benar, sepenuh hati, dan bersungguh-sungguh. Setelah itu, hasilnya kita serahkan kepada Sang Pemilik masa depan. Biarkan Dia yang menilai, masa depan seperti apa yang pantas diberikan-Nya kepada kita berdasarkan semua yang sudah kita upayakan. Que sera, sera.
Kisah kitab suci tentang Nabi Khidr dan Nabi Musa menegaskan bahwa mengetahui masa depan tidak menjadikan hidup kita ‘normal’. Karena dengan tahu tentang masa depan, mungkin kita akan melakukan sesuatu yang dianggap aneh oleh orang-orang disekitar kita. Oleh sebab itu, mengetahui masa depan bukanlah gagasan yang menarik jika kita ingin hidup layaknya manusia normal pada umumnya. Keindahan hidup kita justru terletak pada misteri yang meliputi apa yang akan terjadi sedetik setelah ini. Jika kita tidak tahu akan mengalami peristiwa buruk, maka sekarang kita masih bisa bahagia. Jika kita tidak tahu akan mengalami peristiwa baik, maka sekarang kita memanfaatkan semua yang ada pada diri kita. Maka jika kita ingin bisa benar-benar menikmati hidup, kita perlu bersabar dalam menantikan masa depan.
Meskipun kita tidak memiliki masa depan tetapi kita memiliki masa kini. Selama kita bisa mengendalikan masa kini, maka kita bisa berharap masa depan yang jauh lebih baik lagi.
Menjalani Saat-Saat Jalan Ditempat
by : Dadang Kadarusman
\
Selain makna sebenarnya, frase “jalan ditempat” juga mempunyai makna kiasan. Ketika bisnis kita tidak kunjung berkembang, karir kita tidak naik-naik, atau kehidupan kita tidak juga membaik; kita menyebutnya ‘jalan ditempat’ atau ‘stagnan’. Masalahnya, setiap aspek kehidupan kita tidak selamanya berada dalam ‘mode maju’. Kadang kita harus memasuki masa-masa jalan ditempat itu. Faktanya, ‘jalan ditempat’ itu adalah salah satu bagian dari siklus kehidupan yang mesti kita jalani. Tidak peduli sudah sebaik apa usaha yang kita lakukan, kita belum juga bisa beranjak dari tempat dimana kita memulai. Tidak jarang hal itu menciutkan hati dan melemahkan motivasi kita. Tetapi, benarkah kita tidak bisa berbuat apa-apa saat memasuki periode jalan ditempat?
Beberapa puluh tahun lalu, kita mengenal Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) yang populer nyaris disetiap lapisan masyarakat. Selain sebagai olah raga murah meriah untuk membuat tubuh sehat, saya juga mengenang SKJ sebagai sebuah nasihat; karena senam itu dimulai dengan ‘jalan ditempat’. Dengan nasihat itu, kita bisa membalik pandangan serba suram, dan pesimistis ketika memasuki masa-masa sulit dalam kehidupan kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menggali nasihat dari ‘jalan ditempat’; saya ajak untuk memulainya dengan memahami dan melakukan 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Jalan ditempat tidak berarti berdiam diri. Kita sering keliru mengira bahwa ‘tidak pergi kemana-mana’ sama artinya dengan tidak melakukan apa-apa. Padahal, saat jalan ditempat badan kita menjadi hangat. Bahkan dibasahi oleh tetes keringat. Hal itu menandakan jika dalam keadaan jalan ditempatpun kita bisa melakukan sesuatu agar setiap detik dalam hidup kita tetap bermanfaat. Memang, kadang kita tergoda untuk berdiam diri ketika keadaan sedang sangat tidak menguntungkan. Padahal, berdiam diri itu tidak bisa mengubah keadaan. Kita harus melakukan tindakan agar keadaan bisa berubah menjadi lebih baik. Bagaimana jika membaiknya keadaan itu tidak tergantung kepada apa yang kita lakukan? Benar. Itu bisa saja terjadi. Misalnya, ketika kita hanya menjadi bagian kecil dari sebuah system yang besar sehingga kita tidak punya cukup kekuatan untuk mengubah keadaan. Tetapi itu juga tidak berarti kita boleh berdiam diri. Setidaknya kita bisa melakukan sesuatu untuk memastikan bahwa kita tetap menjadi orang yang lebih siap daripada orang lain untuk segala kemungkinan.
2. Menambah bobot tindakan bisa memperbaiki keadaan. Tidak semua orang melakukan SKJ dengan baik. Ketika sedang jalan ditempat, mereka mengangkat kakinya asal-asalan saja. “Angkat pahanya lebih tinggi!,” begitu guru olah raga kita mengingatkan. Dengan lutut dan paha yang diangkat lebih tinggi, kita menambah bobot gerakan. Saat menjalani masa-masa stagnan pun, kita sering kurang bersemangat. Padahal, tanpa semangat kita akan kehilangan momentum untuk semakin menguatkan diri dan posisi kita. Justru pada saat stagnan kita harus lebih gigih dalam bertindak dan berbuat. Jika kita melakukan tindakan kita dengan bobot yang sama dengan sebelumnya, maka keadaan pasti tidak akan pernah bisa berubah menjadi lebih baik. Apalagi kalau kita mengurangi bobot tindakan kita. Keadaan malah akan semakin memburuk. Memang, tidak enak berada dalam situasi sulit. Tetapi, jika kita bisa meningkatkan bobot tindakan kita; maka kita memiliki peluang yang lebih besar untuk memperbaiki keadaan.
3. Kecepatan tindakan menentukan kecepatan pemulihan. Selain dengan mengangkat tungkai lebih tinggi, manfaat latihan jalan ditempat juga ditentukan oleh kecepatannya. Demikian pula perkembangan kematangan dan ketajaman mental kita. Dia bisa dibangun dengan kecepatan dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. Dalam jatah waktu yang sama-sama 24 jam sehari ini, nyatanya ada orang yang lebih produktif dari orang lain. Bahkan dalam keadaan serba baik pun kita berlomba dengan waktu. Apalagi ketika segala sesuatunya sedang stagnan. Kecepatan kita meraih kesempatan. Kecepatan kita dalam merespon keadaan. Kecepatan kita dalam memberikan solusi; mungkin menjadi faktor yang sangat menentukan apakah masa-masa stagnan itu bisa segera diselesaikan. Boleh jadi, kita bisa lebih cepat keluar dari masa-masa sulit itu jika kita memiliki kecepatan yang lebih tinggi dari orang lain. Janganlah terjebak untuk semakin melambat hanya karena kita memasuki masa-masa yang tidak menyenangkan. Karena boleh jadi, kecepatan kita sangat dibutuhkan untuk melakukan pemulihan.
4. Teruslah berjalan agar tidak jatuh terjerembab. Zaman sudah sangat banyak berubah. Masa kejayaan SKJ juga sudah lama berlalu. Dulu, jalan ditempat hanyalah olah raga milik orang-orang biasa. Namun, tengoklah latihan apa yang sekarang paling banyak dilakukan orang di fitness center? Treadmill. Amatilah alat olah raga apa yang ada di rumah-rumah mewah? Mesin treadmill. Sekarang, jalan ditempat menjadi salah satu olah raga favorit kaum elit. Dulu, Anda boleh diam saja ketika guru olah raga berteriak;”ayo, terus jalan ditempat!”. Diatas mesin treadmill ini, Anda tidak memiliki pilihan lain kecuali terus berjalan. Sebab jika Anda berhenti, maka Anda akan jatuh terjerembab. Berbagai aspek dalam kehidupan kita juga berubah banyak. Dulu, mungkin kita bisa berhenti saja ketika segala sesuatunya sedang sangat sulit. Sekarang, berhenti hampir sama artinya dengan mengijinkan diri kita jatuh tersungkur hingga mungkin tidak bisa bangkit kembali. Maka jika kita tidak ingin terjatuh, kita harus terus berjalan.
5. Nikmati ketika memasuki periode jalan ditempat. Kita sungguh beruntung mendapatkan kesempatan untuk hidup dalam era seperti saat ini. Sekarang kita bisa latihan jalan ditempat sambil menonton tayangan film-film favorit. Atau mendengarkan musik-musik terkini. Bisa juga sambil memelototi laporan pergerakan harga saham. There are lots of funs while you are walking on the treadmill. Kehidupan kita boleh saja sedang jalan ditempat. Tetapi, kita tidak pernah kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup. Benar segalannya sedang serba sulit. Tetapi sesulit apapun, kita masih bisa menemukan kenikmatan yang kita butuhkan. Meskipun kita kehilangan hal lain, namun kita bisa mendapatkan hal lainnya. Maka, seandainya Anda tengah memasuki masa-masa stagnan itu, nikmati saja. Karena kecerdasan mental kita tidak pernah kehilangan alasan untuk membuat hidup kita tetap penuh warna.
Hanya satu kata yang bisa membuat kita kalah oleh keadaan, yaitu; menyerah. Tetapi jika pada saat menjalani masa-masa ‘jalan ditempat’ itu kita masih bisa belajar banyak hal. Atau meningkatkan kemampuan kita. Atau menambah pengetahuan kita. Atau menguatkan mental kita, maka kita bisa menjadi pribadi yang lebih siap untuk menyongsong datangnya masa-masa jaya itu sekali lagi. Bahkan, jika kita bisa menikmati perih dan pedihnya, kita akan tahu bahwa masa-masa jalan ditempat itu bukanlah hal yang buruk. Tidak akan menjadikan hidup kita semakin terpuruk. Karena selama kita terus gigih untuk bertindak dan bergerak, kita masih memegang kendali atas hidup kita sendiri. So, tetaplah berjalan. Meskipun kita tidak berpindah tempat.
Situasi di luar mungkin tidak memungkinkan kita untuk bergerak secara leluasa. Namun selama waktu terus berjalan seluruh kehidupan kita pun bisa terus berjalan, sekalipun hanya bisa berjalan ditempat.
Haruskah Anda Terima Tawaran itu ?
Karir anda adalah aspek yang penting dalam hidup anda. Sehingga, sebelum anda menerima sebuah tawaran pekerjaan, anda perlu melakukan langkah-langkah yang yang dapat anda ambil untuk dapat meminimalkan munculnya resiko karena terjadinya perubahan karir. Asumsinya adalah saat pekerjaan ditawarkan kepada anda , anda sudah dapat membuat keputusan, dapat mendefinisikan sasaran karir jangka pendek maupun jangka panjang , dan rencana anda untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Berikut adalah langkah-langkah yang dapat anda pertimbangkan sebelum anda mengambil keputusan menerima atau menolak tawaran pekerjaan
1. Diskusikan peran baru anda dengan seluruh anggota keluarga.
Setiap anggota keluarga, dapat diharapkan untuk memberikan pandangan mengenai pekerjaan yang akan anda terima. Anda sebaiknya mempercayai naluri yang mereka miliki, dan bahkan anda tidak boleh mengabaikan pendapat dari anggota termuda sekalipun di dalam keluarga.
Sebagai contoh, sebuah peran baru yang menuntut anda untuk melakukan banyak sekali perjalanan dinas luar/jauh dari rumah. putra/putri terkecil anda mungkin akan merasa keberatan karena waktu yang seharusnya dapat dihabiskan dengan mereka akan tersita oleh perjalana dinas luar/jauh dari rumah.
Contoh lainnya adalah peran baru yang menuntut anda untuk meninggalkan tanah air tercinta dan bermukim untuk sementara waktu di negara lain. Dalam situasi ini peran dan persetujuan keluarga sangatlah penting. Anda perlu melakukan penelitian yang seksama atas faktor-faktor seperti : karir ganda, kondisi kehidupan di tempat yang baru, sekolah anak, dan lingkungan
budaya; sebelum mengambil keputusan.
2. Menyelidiki profil perusahaan di dalam lingkungan bisnis (market)
Calon pemberi kerja anda yang prospektif akan meminta referensi mengenai diri anda. Untuk itu tidak ada salahnya juga bila anda melakukan hal yang sama terhadap perusahaan yang bersangkutan . Lakukanlah investigasi terhadap perusahaan yang bersangkutan melalui laporan tahunan mereka, berbicara dengan klien dan pelanggan mereka. Dengan cara ini anda akan
memperoleh pemahaman yang yang lebih baik tentang perhargaan pasar terhadap perusahaan tempat anda nantinya bekerja.
3. Pastikan bahwa kondisi keuangan perusahaan stabil
Memang saat ini tidak ada lagi pekerjaan seaman seperti dulu. Namun tidak ada salahnya untuk memeriksa kondisi keuangan perusahaan. Seringkali seseorang bergabung dengan sebuah perusahaan dengan sejuta harapan . Namun pada akhirnya mereka menemukan bahwa janji-janji yang diberikan selama proses seleksi ternyata tidak realistis, Karena perusahaan tidak memiliki cukup uang dan sumber daya. Bahkan dalam kondisi yang lebih buruk, seseorang mulai bekerja dengan sebuah perusahaan, bersamaan dengan terjadinya pengambil-alihan perusahaan oleh perusahaan lain.
4. Perluas jaringan anda untuk memperoleh pengetahuan
Temuilah sebanyak mungkin anggota tim manajemen dan calon kolega anda di perusahaan yang baru. Lebih banyak anda berbicara dengan orang-orang tersebut, anda akan memperoleh perasaaan yang lebih baik tentang kelompok ini. Langkah ini sebaiknya dilakukan dalam konteks social yang sifatnya informal
5. Pastikan bahwa budaya yang hidup di perusahaan sesuai dengan anda
Kesalahan yang muncul dalam pemilihan karir, sebagian besar disebabkan oleh ketidak sesuaian antara budaya yang hidup di dalam perusahaan dan budaya yang diinginkan oleh seseorang. Struktur manajemen, komunikasi, harapan-harapan, penyataan misi dari perusahaan, dan sikap terhadap pengembangan professional yang berkelanjutan, merupakan indikator-indikator yang penting.
6. Apakah peran yang ditawarkan kepada anda sesuai dengan keseluruhan struktur ?
Bagaimana sistim jaringan internal yang ada di kantor anda yang baru ? Bagaimana pengaturan fisik dari tempat kerja anda. Coba lihat tempat anda nantinya akan bekerja. Lakukanlah kunjungan bila memang diperlukan. Bila hal tersebut di atas tidak dilakukan, dikhawatirkan bahwa anda akan bekerja pada lingkungan fisik yang tidak sesuai dengan keinginan anda. Misalnya anda lebih suka bekerja di dalam lingkungan kerja yang tertutup, sementara lingkungan kerja yang tersedia buat anda adalah lingkungan kerja yang terbuka. Bila hal ini baru dilakukan belakangan, maka anda terlambat.
Pada akhirnya anda hanya akan menerima pekerjaan yang ditawarkan bila anda merasa nyaman dan yakin bahwa perusahaan yang anda inginkan untuk bergabung memenuhi sasaran pribadi maupun sasaran karir anda, dan mempunyai lingkungan kerja yang menyenangkan.
(Sumber : Stone J, Raymond., Should You Accept - Human Resources Management. 3rd Edition, 1998. John Willey & Sons Australia, Ltd. Alih Bahasa oleh Arbono Lasmahadi)
Apakah Anda Menyukai Tebu Atau Gulanya?
by : Dadang Kadarusman
“Habis manis, sepah dibuang,” betapa pandainya para sepuh kita membuat perumpamaan. Orang-orang yang dinilai sudah tidak berguna lagi disisihkan begitu saja. Kadang kita marah, kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah itu jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya saja. Kita tidak suka jadi korban, itu saja. Bukankah kita juga tidak ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang sudah tidak kita miliki lagi. Ngomong-ngomong, ‘sepah’ itu apa sih?
Meski bukan daerah penghasil gula, namun di rumah masa kecil saya terdapat rumpun-rumpun pohon tebu. Kami menggunakan parang untuk memotong batangnya, lalu mengupas kulitnya. Kemudian memotong batang tebu itu menjadi seukuran jari-jari telunjuk. Setelah itu? Kami mengungahnya. Rasa manis memenuhi mulut kami. Lalu tiba saatnya dimana kunyahan itu hanya menyisakan rasa tawar saja. Di mulut kami sekarang hanya tertinggal ampas. Kami meludahkan ampas itu ke tanah. Benda tak berdaya diatas tanah itulah yang kita sebut sebagai sepah. Habis manis, sepah dibuang. Memangnya harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang? Kita sering menggambarkan hidup yang sudah tidak berguna sebagai sepah. Kita sadar jika sudah tidak berguna, tetapi masih ngotot untuk tidak dibuang. Itu mengindikasikan bahwa ini adalah saatnya untuk mengubah paradigma tentang hidup. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memperbaiki paradigma hidup itu; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Jadilah pemanis kehidupan. Disekitar kita begitu banyak orang yang suka minum kopi. Tetapi, saya hampir tidak pernah mengenal orang yang minum kopi tanpa gula. Bahkan sekalipun kita menyebutnya ‘kopi pahit’, ternyata ya menggunakan gula juga. Mengapa gula selalu ada dalam setiap cangkir kopi yang disajikan? Karena gula membuat rasa pahit pada kopi terasa menjadi manis. Anda yang mengetahui rasa asli kopi tentu tahu jika sebenarnya kopi itu mirip arang. Karbon yang tersisa dari benda hangus. Makanya rasanya tidak benar-benar enak. Tetapi, ketika kedalam seduhan kopi pahit itu kita bubuhkan gula; tiba-tiba saja kita menikmatinya. Bahkan menjadikannya sebagai minuman favorit. Bayangkan jika kita bisa membuat rasa pahit kehidupan menjadi terasa manis. Tentunya kita tidak akan lagi harus disiksa oleh rasa pahit itu. Bahkan boleh jadi, kita menjadi penikmat rasa pahit itu. Kita bisa menari dalam deraan tantangan dan rintangan. Kita masih bisa tersenyum ditengah terpaan angin cobaan. Dan kita masih bisa bersyukur meski tengah berada dalam pahit getirnya cobaan hidup. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang mampu memaniskan kehidupan.
2. Jadilah pribadi yang manis, maka pasti selalu dikerubuti. Ditempat tidur saya tiba-tiba saja banyak sekali semut. Setelah diperiksa, ternyata ada sisa-sisa gula dari kue kering yang kami makan bersama anak-anak. Ternyata benar; ada gula, ada semut. Para semut tidak lagi memperdulikan lokasi dan situasi. Dimana ada gula, kesitulah mereka berbondong beriringan. Ini tidak hanya benar bagi para semut. Coba saja perhatikan orang-orang yang bisa memberi manfaat bagi lingkungannya. Para dermawan, selalu dikerubungi oleh para pengikut setianya. Para alim ulama dan orang-orang berilmu, selalu menjadi rujukan para pencari pencerahan. Siapapun yang bisa memberi manfaat kepada orang lain, bisa dipastikan selalu dibutuhkan oleh mereka. Kita? Sesekali orang lain itu mbok ya membutuhkan kita gitu loh. Tapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya ya? Mereka malah mengira seolah kita ini tidak ada. Sekalipun kita sudah menyodor-nyodorkan wajah kita. Tetap saja masih tidak mereka lihat. Sudah beriklan, bahkan. Tapi juga tidak ditanggapi. Barangkali, karena kita belum bisa menjadi pribadi yang manis bagi mereka. Karena sudah menjadi fitrah manusia untuk mengerubuti segala sesuatu yang terasa manis.
3. Tetaplah manis, maka sepahmu tidak pernah dibuang. Mari berhenti untuk marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus berpikir bagaimana caranya supaya tidak menjadi sepah. Sebab jika kita masih tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita, percayalah. Saya mengenal seorang eksekutif senior yang mumpuni. Setelah memasuki masa pensiun dari jabatanya yang tinggi, saya pikir beliau akan menjadi seperti ‘tebu-tebu’ yang lainnya. Ternyata saya keliru. Perusahaan kemudian memperpanjang masa kerjanya dengan system kontrak. Lalu beliau berpindah ke perusahaan lain. Lalu beliau ditarik lagi oleh perusahaan lainnya. Bagi saya, beliau inilah salah satu living legend mereka yang tidak pernah membiarkan dirinya ‘kehilangan rasa manis’. Meski usianya sudah jauh melampaui masa pensiun, beliau tetap manis. Rasa manis yang masih tetap lestari didalam dirinya itulah yang menjadikan beliau tetap menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar. Jadi jika kita tidak ingin menjadi sepah yang dibuang, maka kita harus memastikan bahwa kita tetap menjadi pribadi yang manis.
4. Nikmatilah rasa manis secukupnya, tidak berlebihan. Sekarang, cobalah ambil sesendok gula terbaik yang Anda miliki. Lalu suapkan sesendok gula itu kedalam mulut Anda, dan kunyahlah. Apakah Anda masih menikmati rasa manisnya? Pada dasarnya, semua orang menyukai rasa manis. Namun, tak seorang pun bisa melahapnya terlalu banyak. Kita semua mendambakan manisnya kehidupan. Dan kita sering terlalu serakah untuk merengkuhnya sendirian. Bahkan gula pun mengajari kita bahwa terlalu banyak rasa manis membuat kepala kita pusing, bahkan kita bisa mengalami sindrom toleransi insulin. Sungguh keliru jika kita mengira hidup yang manis itu adalah yang semuanya serba indah. Tidak. Justru hidup yang terlalu indah cenderung menjadikan kita pribadi yang serakah. Semacam sindrom toleransi insulin kehidupan. Tidak peduli betapa banyak insulin yang diproduksi dalam tubuh Anda, gula akan tetap menumpuk dalam darah Anda. Tahukah Anda apa yang terjadi ketika dalam darah kita terdapat lebih banyak gula dari yang seharusnya? Hmmmh, Anda tentu paham yang saya maksudkan. Bahkan rasa manis kehidupan yang terlalu banyak pun bisa membahayakan kehidupan diri Anda sendiri. Maka nikmatilah rasa manisnya kehidupan, namun tidak perlu berlebihan.
5. Semanis apapun kita, tidak bisa lepas dari fitrah. Sepah di kebun tebu kami jumlahnya tidak terlalu melimpah. Namun jika dibiarkan tetap saja menjadi sampah. Kami punya banyak pilihan untuk memperlakukannya. Jika kami membuangnya ke kolong kandang domba, maka sepah itu akan menambah nutrisi pada pupuk kandang yang kami dapatkan. Jika kami membuangnya ke kolam ikan, maka dia akan menjadi tempat tumbuhnya plankton dan jentik-jentik makanan penggemuk ikan. Jadi, apanya yang terbuang dari seonggok sepah? Tidak ada. Sepah benar-benar menyadari bahwa dia tidak bisa melawan fitrah. Semua orang yang pernah muda akan menjadi tua. Semua yang gagah perkasa akan menjadi tak berdaya. Semua yang kuat menjadi lemah. Itulah fitrah. Tetapi mari sekali lagi kita lihat sang sepah. Bahkan setelah masuk tempat sampah, dia tetap saja menjadi anugerah. Jika kita ikut mengimani konsepsi hidup setelah mati, maka kita lebih beruntung lagi. Karena dengan keyakinan itu kita kita bisa berharap memetik buah manis tabungan kebaikan yang pernah kita lakukan semasa hidup. Kita boleh berharap itu, karena iman kita mengajarkan bahwa setiap amal baik yang pernah kita lakukan atas nama Tuhan, akan membuahkan imbalan yang sepadan. Beruntunglah kita yang percaya, karena setidak-tidaknya kita memiliki harapan; bahwa fitrah kita adalah untuk mempersiapkan tempat pulang alam keabadian.
Tidak perlu lagi untuk merasa kecewa karena telah dihempaskan oleh lingkungan yang Anda harapkan memberikan penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum bisa memberi rasa manis yang mereka butuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki. Tetapi, bukan itu yang perlu menjadi fokus perhatian kita sekarang. Cukuplah untuk selalu memikirkan, bagaimana caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis? Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat; mereka akan datang sendiri.
Jika kita merasa dibuang dari lingkungan yang kita inginkan, mungkin itu karena kita sudah tidak memiliki rasa manis yang bisa kita berikan. Atau, rasa manis kita lebih dibutuhkan ditempat yang lain.
Memuliakan Bawahan
by : Dadang Kadarusman
Coba perhatikan baik-baik, apakah ada yang aneh dengan judul artikel ini? Sekalipun tidak terlalu aneh, tetapi tidak lazim. Saya sendiri tidak pernah mendengar nasihat atau kuliah kepemimpinan yang membicarakan topik tentang memuliakan bawahan. Kata-kata itu meluncur begitu saja seolah ada tangan yang sengaja menjatuhkannya dari langit lalu secara akurat mendarat diatas kepala saya yang nyaris plontos. Tanpa ada yang menghalangi, dia merasuki otak saya lalu mencair dan mengalir melalui seluruh jaringan syaraf menuju ke sekujur tubuh saya. Seolah terkena sengatan setrum listrik, seluruh sel didalam setiap organ tubuh saya tertegun. Mengapa harus memuliakan bawahan?
Jika Anda bertemu orang yang jabatannya lebih tinggi; sangat mudah menghormati mereka. Tetapi, sungguh sangat sulit untuk menghormati bawahan. Jika Anda bertemu dengan pelanggan, maka Anda bersikap seramah mungkin kepada mereka, bukan? Anda melayani apapun yang diinginkannya dengan wajah penuh senyum dan semangat keikhlasan yang paling tinggi sampai pelanggan itu pulang. Setelah itu, Anda kembali ke ruang kerja dimana disepanjang koridor yang Anda lintasi ada banyak anak buah dilewati. Selama melintas itu sebagai atasan merasa memiliki derajat yang lebih tinggi karena memang kita ini adalah bos. Anda tidak demikian? Bagus sekali. Sekarang, tinggal bagaimana melakukannya secara konsisten. Dan untuk bisa konsisten, kita perlu terus melatih diri. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memuliakan bawahan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
1. Tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa. Coba ingat-ingat kembali suasana ketika beberapa orang yang Anda pimpin tidak masuk kantor karena sakit, atau cuti, atau alasan lainnya. Bagaimana Anda menangani tugas-tugas yang mereka tinggalkan? Apakah Anda bisa memperoleh data-data yang diperlukan secepat seperti bisanya? Apakah team Anda bisa menyelesaikan penugasan sama banyaknya? Apakah group Anda bisa meraih pencapaian yang sama tingginya? Apakah Anda bisa melayani pelanggan yang sama banyaknya? Setinggi apapun jabatan kita, tidak memiliki banyak makna tanpa kehadiran orang-orang yang kita pimpin yang selama ini menentukan keseluruhan kinerja yang kita raih. Itu membuktikan bahwa tanpa mereka, kita ini bukan siapa-siapa.
2. Pelangganpun tidak lebih penting dari bawahan. Apakah pelanggan penting? Tidak diragukan lagi. Lantas, apakah bawahan kita sedemikian pentingnya? Oh, itu benar, meski belum disadari banyak atasan. Sekarang, bayangkan seandainya orang-orang yang kita pimpin tersakiti hatinya oleh perilaku kita. Dapatkah mereka melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya? Jika suatu saat Anda mendatangi suatu kantor, lalu orang di kantor itu memperlakukan Anda sebagai pelanggan dengan cara yang tidak patut; maka bisa dipastikan jika orang itu tidak diperlakukan dengan baik oleh atasannya. Sungguh, perilaku melayani pelanggan dengan buruk seperti itu pulalah yang akan diterapkan oleh anak buah kita jika sebagai atasan kita tidak memperlakukan mereka dengan baik. Jadi meskipun pelanggan itu penting, mereka tidak lebih penting dari bawahan untuk kita muliakan dengan sama baiknya.
3. Merekalah yang paling berjasa pada karir kita. Selama bekerja, saya mengalami kenaikan jabatan yang relatif cepat. Selama itu pula saya menganggap bahwa saya ini orang yang hebat. Terbukti dengan tangga karir saya yang terus melesat. Padahal, tidak ada satupun pencapaian karir yang benar-benar kita raih sendiri. Jika jabatan Anda naik lagi, itu tentu karena prestasi kepemimpinan Anda pada posisi sebelumnya. Tetapi coba perhatikan sekali lagi, bagaimana Anda bisa meraih semua pencapaian itu? Bukankah semua terjadi karena kerja keras orang-orang yang Anda pimpin? Jadi jika ada orang yang paling berjasa dalam memajukan karir Anda, maka para bawahan Anda adalah orangnya.
4. Sumber kerendahan hati yang tinggi. Jika kita santun kepada orang yang lebih tinggi, maka itu sama sekali bukanlah ciri kerendahan hati. Itu bisa dengan mudah dilakukan baik dengan sukarela ataupun terpaksa. Tetapi, santun kepada orang-orang yang lebih rendah merupakan tantangan kelas tinggi. Kenapa gue mesti sopan pada anak buah? Untuk sekedar sopan saja rasanya kok tidak logis, ya? Apalagi untuk melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Maka menjelmalah hidup kita menjadi ironi bagi ilmu padi; semakin berisi, semakin merunduk. Kita? Semakin berisi, semakin tinggi hati. Entah mengapa. Yang jelas, begitu kita naik jabatan, rasanya derajat kita memang sudah lebih tinggi dari mereka. Lalu kita dibisiki oleh kata hati dan perilaku yang merendahkan. Padahal, rendah hati kepada mereka menunjukkan budi pekerti yang tinggi.
5. Bukan ‘melayani atau dilayani’, tapi ‘saling melayani’. Kepemimpinan egaliter dicirikan oleh adanya kesamaan derajat dan harkat martabat antara atasan dengan bawahannya. Banyak pemimpin yang lupa melayani, karena memposisikan dirinya untuk terus dilayani. Meski sudah menjadi tugas bawahan untuk melayani atasannya, tetapi atasannya juga berkewajiban untuk melayani kebutuhan dan hak-hak para bawahan. Kita sering merasa sudah menjadi pemimpin yang baik. Padahal tak seorang pun bisa menjadi pemimpin yang baik seperti klaim pribadinya jika tidak mau melayani bawahannya. Apakah Anda pernah mendengar sekelompok bawahan yang mengajukan mosi tidak percaya kepada atasannya? Atau sekedar tidak menaruh rasa hormat? Itu adalah indikasi bahwa kemuliaan seorang atasan sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk memuliakan bawahannya. Mengapa? Karena atasan dan bawahan ada untuk saling melayani.
Jika hari ini Anda masuk kantor dan bertemu dengan bawahan Anda, maka cobalah ubah cara pandang Anda pada mereka. Mulai sekarang, posisikan diri Anda setara dengan mereka, dan mulailah untuk lebih banyak melayani mereka. Selama ini, mereka sudah banyak melayani Anda. Saatnya Anda untuk membalas semua pelayanan mereka dengan kemuliaan yang Anda bangun untuk mereka. Percayalah, orang-orang yang Anda pimpin itu akan secara refleks dan sigap membalas perlakuan agung Anda kepada mereka dengan pelayanan dan kesetiaan yang jauh lebih tinggi dari mereka. Dan Anda, akan menjadi pemimpin yang bukan sekedar ditakuti, dipatuhi atau diikuti. Anda, akan menjadi pemimpin yang mereka rindukan dan cintai.
Jika para bawahan berdoa untuk para atasannya, maka pasti isi doanya sangat ditentukan oleh perlakuan atasannya kepada mereka.
Tidak Melakukan Apapun – Bisakah Anda?
by : Dadang Kadarusman
Today is Monday. And I swear I am not going to do anything. Why? Because people says that Monday is hari malas sedunia katanya ya kan? Males banget mau pergi kekantor hari senin. Makanya we don’t like Monday. Biasanya kita disarankan untuk mengubah kalimat itu menjadi I like Monday!. Memang, kalimat-kalimat positif bisa membantu kita untuk menaikkan kadar energi positif juga. Namun, apa salahnya sih jika sesekali kita males-malesan juga? Kalau saya mau tidak melakukan apapun, so what? Sebentar dulu, masalahnya…; apakah benar saya bisa tidak melakukan apapun juga?
Ketiga ABG kami sangat menggemari lagunya Bruno Mars, The Lazy Song. Kalau ada lagu itu, mereka ikut menyanyikannya juga. Saya? Secara kita kan mantan vocalis paduan suara SMA, gitu loh. Nyanyi juga dong. Kan lagunya asyik banget. Anehnya, setiap kali saya mendengar lagu itu, sama sekali tidak ada rasa malas. Saya malah menjadi lebih bersemangat, meneruskan apa yang sedang saya lakukan sambil ikut bersenandung. Ternyata, motivasi bisa didapatkan dimana saja. Bahkan ketika kita sedang menyanyikan lagu tentang kemalasan. Jangan-jangan, dengan berperilaku malas pun kita bisa bersemangat, kali ya? Soal ini saya serius. Marilah sesekali kita melihat ‘kemalasan’ dari sisi positifnya. Pasti ada pelajaran yang bisa kita petik. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar males-malesan (bukan males beneran), saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
1. Kita tidak bisa tidak melakukan apapun. Today, I don’t feel like doing anything. Sungguh, saya sudah mencoba melakukannya. Tapi, ternyata saya tidak tahu bagaimana cara ’tidak melakukan apapun’ itu. Saat saya diam, saya ’sedang melakukan sesuatu’. Waktu melamun, saat luntang-lantung, sebut saja apa. Semua itu adalah ’doing thing’, melakukan sesuatu. Jadi bagaimana sih ’tidak melakukan apapun’ itu? Kasih tahu saya jika Anda berhasil menemukannya. Saya ingin mencoba ’tidak melakukan apapun’. Karena sampai sekarang saya percaya bahwa kita, tidak bisa tidak melakukan apapun.
2. Penuhi komitmen kepada orang lain. Apapun yang kita lakukan atau tidak kita lakukan adalah hak kita. Terserah kita dong. Yang penting, kita kan tidak mengganggu atau merugikan orang lain. Betul tidak? Iya, kan. Kita sepakat soal itu. Nah, kalau kita sepakat, berarti kita juga setuju untuk mencegah jangan sampai orang lain terganggu ketika kita sedang ‘tidak melakukan apapun’. Makanya, sebelum mulai ‘tidak melakukan apapun’ itu, mari kita tunaikan dulu kewajiban kita kepada orang lain. Mungkin atasan kita. Mungkin bawahan kita. Mungkin kolega kita. Mungkin pelanggan kita. Siapapun. Pokoknya, mari tuntaskan dulu tanggungjawab kita kepada orang lain, sebelum kita memulai program ‘not doing anything’ itu. Why? Kan kita sudah sependapat untuk memenuhi komitmen kita kepada orang lain.
3. Berbaring tidak berarti tidak melakukan apapun. Sudah ditunaikan semua komitmen pada orang lain. What next? I just wanna lay in my bed. Yuhuuu, itu adalah lirik terfavorit saya. Kayaknya asyik banget deh kalau cuma berbaring ditempat tidur. Tapi, berbaring di tempat tidur tidak berarti tidak melakukan apapun. You can bring your botebook along. Dan melakukan sesuatu yang memberi nilai pada hidup. Meskipun Anda bukan penyair, sesekali boleh juga menorehkan sebait puisi yang bisa menginspirasi. Malas membawa desktop PC ke tempat tidur? Wajarlah. Berat, Bok! Ambil pensil dan kertas kosong. Goreskan gagasan apapun meski masih samar-samar. Lagi gak bisa mikir! Tak apa juga. Tidak usah mikir deh, kalo gitu. Mendingan merenung aja. Melihat kedalam diri. Berkata jujur pada nurani. Lalu bikin komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semuanya itu, bisa kita lakukan sambil ’I just wanna lay in my bed....”
4. Putus hubungan dengan dunia luar. Terlalu banyak interupsi yang kita alami sepanjang hari-hari yang kita lalui. Meski tidak bertemu dengan orangnya. Don’t like picking up your phone!. Bukan sekedar telepon, tetapi semua alat komunikasi yang memberi celah kepada orang lain untuk memasuki ruang pribadi kita. Coba saja, cek sekali lagi; berapa kali pekerjaan yang sedang Anda lakukan terkena interupsi oleh bunyi ‘beeep…’ dari blackberry Anda? Berbahaya lho itu. Pekerjaan Anda berkali-kali tertunda. Lalu kita menyalahkan pekerjaan yang terlalu banyak, atau gaji kecil, atau atasan yang kurang membimbing sebagai biang keladi kegagalan kita menyelesaikan tugas itu. Saat kita ingin sendiripun begitu. Tidak akan berhasil, jika ditengah kesendirian yang kita bangun itu, kita masih membiarkan pesan-pesan tak penting dari orang lain menembus dinding kamar kita. So, putuskan hubungan dengan dunia luar. Sampai Anda benar-benar siap untuk membangunnya kembali.
5. Anda boleh melakukan apapun. No body’s gon’ tell me I can’t. Oh, yes I said it ‘cause I can. Tak seorang pun bisa melarang kita untuk melakukan apapun yang kita inginkan. Toh sebagai orang dewasa kita memiliki tanggungjawab penuh atas semua tindakan yang kita lakukan. Hal positif maupun negatif. Terserah deh, pokoknya. Asal sanggup saja menanggung konsekuensi dari semua pilihan dan tindakan yang kita ambil. Bahkan Ayah dan Ibu kita pun tidak lagi berhak untuk melarang. Namun, mereka juga tidak akan dimintai pertanggunjawaban atas semua yang kita lakukan. Semuanya sudah menjadi tanggungan kita sendiri. Ketika menyadari hal ini, maka Anda boleh melakukan apapun.
Jangan terlalu percaya pada orang yang mengatakan tidak pernah kehilangan semangat. Bisa jadi dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Atau derajat orang itu sudah terlalu tinggi untuk bisa kita teladani. Maqamnya sudah sulit dijangkau manusia biasa seperti kita. Mending kita jalani hidup layaknya manusia saja. Jangan takut untuk menjadi orang malas. Karena tidak semua kemalasan bernilai buruk. Malas meniru perilaku negatif. Malas ikut-ikutan mereka yang tidak produktif. Malas terlibat dalam urusan yang tidak bernilai. Dan begitu banyak lagi kemalasan yang kita butuhkan lainnya. Bahkan, kemalasan untuk melakukan apapun; ternyata memiliki nilai positif jika kita bisa memberinya makna yang berguna untuk menjadikan hidup kita lebih baik.
Jika Anda sedang ingin malas-masalan, ikuti saja kemalasan itu. Lalu arahkan dia menuju ke jalur positif.
Teknik Mengkritik Yang Simpatik
by : Dadang Kadarusman
Tidak seorangpun suka dikritik. Termasuk seseorang yang secara terbuka mengatakan;’silakan kritik saya!’ Percayalah. Orang hanya suka dikritik jika kritikan itu tidak menyinggung perasaan dan harga dirinya, tidak memojokkannya, dan tidak menelenjangi ketidakmampuannya. Masalahnya adalah, kita sering tergoda untuk menyampaikan kritik bukan dengan cara yang disukai oleh orang yang dikritik, malah lebih sering disertai dengan dorongan emosi kita sendiri. Walhasil, kita hanya berteriak-teriak tanpa bisa mengharapkan penerimaan dan kelapangan dada orang yang kita kritik. Hasil akhirnya? Anda sebal kepada orang yang tidak mau dikritik. Sebaliknya, orang yang Anda kritik semakin tidak menyukai Anda. Bukan kondisi seperti ini yang Anda inginkan, iya kan?
Mengapa teknik mengkritik yang simpatik itu penting? Karena sebaik apapun isi kritik Anda, jika disampaikan tidak dengan simpatik akan sia-sia saja, Bung! Kecuali jika kita memang ingin mengajak seseorang bertengkar, kita harus belajar mengkritik dengan cara yang baik. ”Serulah mereka dengan cara yang baik dan simpatik,” begitu pesan guru kehidupan saya. Sebagai seorang yang berpikiran logis, saya termasuk orang yang to the point jika menyampaikan kritikan. Khususnya dulu ketika masih belum memahami psikologi komunikasi. Sekarang pun saya belum benar-benar terampil, namun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar teknik mengkritik yang simpatik, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
1. Bercerminlah terlebih dahulu. Seperti halnya saya, Anda bukanlah manusia yang sempurna. Jadi, kalau menemukan kesalahan atau kelemahan pada diri orang lain, tidak usah langsung ingin mengkritik. Tengoklah kedalam diri sendiri, sebelum menyampaikan kritik kepada orang lain. Saya teringat pada seseorang yang mengkritik saya tentang sesuatu. Menurut hemat saya, beliau benar soal kritikan itu sehingga saya mengikutinya. Lagipula, kritikannya itu baik untuk menjadi sarana saya meningkatkan diri saya sendiri. Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengan orang itu. Saya mengucapkan terimakasih atas kritik yang dulu pernah disampaikannya, karena saya benar-benar mendapatkan manfaatnya. Sayangnya, ternyata beliau menerapkan apa yang dulu saya lakukan yang menjadi pokok kritikannya kepada saya. Rasa hormat saya kepada beliau tidak berkurang. Tetapi, kejanggalan itu terasa didalam hati. Maka sebelum mengkritik orang lain, lebih baik jika Anda bercermin terlebih dahulu.
2. Abaikanlah hal-hal yang kecil. “Don’t sweat the small stuff,” kata Richard Carlson. Kita ini sering usil dengan hal-hal kecil. Padahal banyak hal kecil yang tidak terlalu prinsipil. Mengapa? Karena jika Anda terjebak dengan hal-hal atau kesalahan kecil yang orang lain lakukan, maka Anda bisa kehilangan penglihatan terhadap hal-hal besar yang orang itu kontribusikan. Masak sih gara-gara kesalahan kecil yang tidak berpengaruh banyak lalu kita mau menihilkan jasa-jasa baik seseorang? “Hey, hal-hal kecil kalau dibiarkan bisa jadi besar!” Anda benar soal itu. Tapi apakah semua hal kecil seberbahaya itu. Justru orang-orang baik perlu melakukan kesalahan kecil. Mengapa? Karena kesalahan kecil itu menghindarkan dia dari sikap sombong dan menyadarkannya pada kenyataan bahwa dia adalah mahluk yang tidak sempurna. Dengan begitu dia bisa terus menjaga sikap rendah hati. Lagipula, bukankah kita sendiri juga banyak melakukan kesalahan kecil? Jadi, kalau orang lain melakukan kesalahan kecil yang tidak merugikan Anda – maka sebaiknya Anda abaikan sajalah. Tidak usah usil.
3. Nilailah tingkat urgensinya. Banyak kelemahan orang lain yang bisa kita kritik. Cara berbicaranya. Cara berkirim emailnya. Cara berpakaiannya. Cara berjalannya. Cara bekerjanya. Cara makannya. Percayalah, tidak terhitung banyaknya. Anda tidak akan pernah sanggup untuk sekedar menginventarisirnya. Bayangkan jika setiap kelemahan orang lain itu harus Anda kritik? Bisa-bisa, Anda kehabisan waktu untuk membenahi diri Anda sendiri. Belajarlah untuk menilai tingkat urgensinya. Jika hal itu tidak penting-penting amat, sebaiknya Anda abaikan saja. Bukan berarti Anda menjadi apatis, melainkan menggunakan energy yang Anda punya untuk mengkritik hanya hal-hal yang memang penting. Menjadi pribadi yang impulsif itu melelahkan lho. Makanya, Anda perlu belajar menilai tingkat urgensi sesuatu yang menyentak tombol ‘spesialis kritik’ dalam ubun-ubun Anda.
4. Tinggalkanlah emosi dilemari besi. Coba perhatikan baik-baik bagaimana cara Anda mengkritik. Adakah emosi menyertainya? Tanpa disadari kita berbicara dalam suatu forum hingga memojokkan seseorang. Serius, dulu saya begitu. Lalu saya sadar bahwa itu bukanlah teknik simpatik dalam mengkritik. Alih-alih menerima kritikan, orang malah menjauhi kita. Contoh lain, seseorang mengkritik saya tentang isi artikel yang menurutnya ‘terlalu panjang’ sehingga beliau malas membacanya. Katanya, artikel saya harus ditulis singkat dan padat supaya tidak membuang-buang waktu pembacanya. Beliau benar. Namun kebenaran tidak hanya ada di satu sisi. Karena ada argument lain yang juga tepat. Artikel saya, hanya diperuntukkan bagi mereka yang ingin membacanya. Sedangkan bagi mereka yang sibuk, saya menyediakan tulisan singkat padat berbobot di twitter @dangkadarusman karena saya percaya segala sesuatu ada target audiensnya masing-masing. Anehnya lagi, kritikan untuk menulis singkat itu justru ditulis dengan panjang lebar termasuk beribu argumen; mengapa sebuah pesan email harus singkat. So, tidak perlu membawa-bawa emosi saat mengkritik. Jika ada emosi itu, maka tinggalkanlah di lemari besi Anda.
5. Sampaikanlah kritik dengan santun. Kesantunan bukan hanya milik orang timur. Orang barat pun sangat santun lho. Mengapa sih, kita perlu belajar santun? Karena kesantunan itu menunjukkan ‘kelas’ seseorang. Ini tidak selalu berkorelasi dengan pendidikan, karena banyak juga orang yang berpendidikan tinggi namun kalah santun dengan orang yang sekolahnya biasa-biasa saja. Oleh sebab itu, kesantunan menjadi elemen penting dalam mengkritik. Contoh aktualnya, seseorang mengkritik saya tentang sopan santun dalam berkirim email melalui milist umum. Tetapi saat menyampaikan kritik tentang sopan santun itu, beliau lupa untuk sekedar menulis salam pembuka. Bahkan ada juga orang yang menggunakan kosa kata yang hanya digunakan dijalanan Bronx. Kritik tentang kesantunan yang disampaikan secara tidak santun bisa kehilangan makna. Mengapa? Bisa jadi orang yang dikritik menjadi lebih baik, sementara orang yang mengkritik tetap menjadi pribadi yang picik. Lebih dari itu, bukankah kita tahu bahwa Tuhan sangat tidak menyukai orang-orang yang mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya? Jika Tuhan Yang Maha Bijak saja tidak suka, apalagi sesama manusia. So, belajarlah untuk menyampaikan kritik secara santun.
Mengkritik itu adalah wujud dari kepedulian sosial. Kita tidak perlu alergi untuk dikritik karena saat seseorang mengkritik adalah saat dimana kita dipedulikan. Dan itu adalah saatnya kita untuk memperbaiki diri – jika isi kritikannya memang valid. Kita juga tidak perlu takut untuk mengkritik, karena tanpa kritik dunia kita bisa lebih cepat hancur. Banyak perilaku buruk disekitar kita bukan? Tugas kitalah untuk mencegahnya. Apalagi jika kita sadar bahwa mengkritik untuk hal-hal baik adalah tugas yang diberikan Tuhan kepada setiap pribadi yang menyukai kebaikan. Dalam bahasa guru kehidupan saya; “saling menyeru untuk berbuat kebaikan, dan saling mencegah dari kemungkaran”. Mengkritik? Hayu. Tapi, lakukanlah dengan teknik yang simpatik.
Masalah terbesar bagi tukang kritik seperti kita adalah sering tidak menyadari jika kritik yang kita sampaikan itu sebenarnya lebih cocok untuk diri kita sendiri
Mengatasi Bawahan Yang Sulit
by : Dadang Kadarusman
Orang-orang yang sulit biasa disebut sebagai difficult people. Bagi seorang atasan, menangani bawahan yang sulit merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hal ini bukan hanya bisa meruntuhkan wibawanya, tetapi sangat melelahkan hati. Merusak reputasi, dan membikin frustrasi. Dalam banyak kasus, orang yang dikira sulit itu tidak selalu benar-benar sulit. Melainkan atasannya yang belum tahu bagaimana cara memimpinnya. Begitu menerapkan cara memimpin yang tepat, mereka ’berubah’ menjadi orang-orang yang sangat koperatif. Apakah Anda memiliki bawahan yang sulit? Ataukah justru Anda adalah bawahan yang sulit bagi atasan Anda?
Kebanyakan orang kegirangan ketika mendapatkan promisi jabatan. Tak jarang yang kemudian ’makan hati’ saat menjalani hari-hari sulit dalam memimpin orang. Bahkan tidak sedikit yang menutupi ketidakmampuannya dalam memimpin orang lain dengan memberi label bawahannya sebagai orang sulit. Secara objektif, memang ada orang-orang yang sangat sulit diatur hingga tidak segan untuk melakukan pembangkangan. Mereka pada dasarnya orang-orang yang tidak mau menerima kepemimpinan atasannya. Namun secara sukyektif, tidak jarang juga ’kesulitan’ itu ditimbulkan oleh ketidakmampuan atasan untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan sifat dan karakter bawahan. Situasi serupa ini bisa terjadi di perusahaan apapun dan dialami oleh pemimpin yang manapun. Maka sebagai seorang pemimpin, kita perlu belajar mengatasinya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengatasi bawahan yang sulit, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:
1. Perlihatkan kematangan. Salah satu alasan klasik orang-orang sulit adalah menilai atasannya sebagai orang yang tidak layak memimpin mereka. Apakah karena mereka merasa lebih senior, atau lebih berpengalaman, atau sekedar merasa lebih berhak mendapatkan jabatan itu. Makanya kalimat favorit mereka berbunyi;”Elu kira elu itu siape?” Cara terbaik menghadapi mereka adalah dengan memperlihatkan kematangan kita. Usia, masa kerja, dan pengalaman kita boleh saja tidak lebih banyak dari mereka. Namun, kepemimpinan bukanlah semata-mata ditentukan oleh hal-hal semacam itu. Ironisnya, banyak atasan yang menghadapi tantangan seperti ini dengan menggunakan kekuatan jabatan alias position power dengan prinsip ’Gua boss elu. Suka atau tidak, elu musti nurut sama gua!” Efektifkah? Bisa ya, bisa tidak. Tetapi saya memiliki keyakinan dan pengalaman bahwa kekuatan jabatan itu bisa tidak selalu diandalkan. Malah sebaliknya bisa semakin menimbulkan penolakan orang-orang sulit. Beda dengan kematangan. Cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa bawahan yang awalnya sulit dan menyepelekan atasannya, kemudian berubah menjadi respek kepadanya. Bukti bahwa kematangan seseorang dalam memimpin mempunyai dampak langsung kepada rasa hormat anak buahnya.
2. Tunjukkan rasa hormat. Setiap orang berhak untuk menunjukkan ekspresinya. Termasuk perasaannya terhadap pemimpinnya. Anda tidak akan pernah bisa memaksa seseorang menyukai Anda. Mengapa? Karena perasaan suka dan penghormatan adalah bagian yang tidak bisa diintervensi oleh orang lain. Bukankah Anda juga tidak dapat menghormati orang-orang yang menurut pendapat Anda layak dihormati? Masalahnya, banyak atasan yang karena kedudukannya merasa dirinya layak dihormati. Padahal, bukan hanya atasan yang layak mendapatkan penghormatan. Bawahan juga memiliki hak yang sama. Maka gagasannya adalah; bagaimana antara atasan dan bawahan bisa ‘saling menghormati’. Siapa yang harus terlebih dahulu menunjukkan rasa hormat itu jika demikian? Kita. Apalagi jika posisi Anda lebih tinggi dari mereka. Maka Anda perlu memberi keteladan dengan terlebih dahulu memberi rasa hormat kepada bawahan. Apakah ini tidak memancing mereka merasa diatas angin lalu lebih melecehkan? Hey, tak seorang pun bisa melecehkan orang yang memiliki kematangan dan rasa hormat. Pada akhirnya, mereka akan menyadari jika sikap hormat Anda kepada mereka layak dibalas dengan penghormatan yang sama.
3. Berikan penyadaran. Banyak sekali bawahan yang lupa bahwa sikap sulitnya hanya akan membuat pekerjaan dan karir mereka semakin sulit. Mereka sering keliru mengira bahwa kalau bisa melawan atasan berarti mereka adalah orang-orang yang kuat. Dalam banyak kasus, hal itu berhasil juga. Cukup banyak atasan yang frustrasi karena bawahannya sehingga kepemimpinannya tidak efektif. Dampaknya, team yang dipimpinnya tidak menghasilkan kinerja baik. Walhasil, akhir tahun semuanya mendapatkan penilaian yang buruk. Bawahan sulit sering mengira dia menang. Padahal dalam situasi seperti itu, semua orang adalah pecundang. Atasannya loose, mereka sendiri juga loose. Makanya, sebagai atasan Anda perlu memberi penyadaran kepada bawahan yang sulit bahwa sikap buruknya hanya akan merugikan diri mereka sendiri. Sebagai atasan, Anda memiliki kewajiban untuk memberi penyadaran ini. Dan mereka berhak untuk mendapatkannya. Anda juga memiliki kewenangan untuk menilai. Maka jika mereka ingin mendapatkan penilaian yang baik, mereka harus memperlihatkan sikap dan kinerja yang baik. Jika mereka ngotot bertindak sulit, maka itu pilihannya sendiri. Jika sadar soal ini, Anda tidak akan ikut terpuruk. Sebab dari awal Anda tahu harus melakukan apa.
4. Tegakkan kedisiplinan. Sikap dan perilaku seseorang sepenuhnya menjadi pilihan dia sendiri. Anda hanya bisa melatihnya, membimbingnya, dan terus menerus mengingatkannya. Namun, Anda tidak bisa memaksanya. Tapi tidak demikian dengan kedisiplinan. Itu adalah hak perusahaan. Sedangkan karyawan wajib memenuhinya. Oleh sebab itu, meski Anda wajib memberi ruang kepada bawahan untuk menentukan sikapnya sendiri, namun soal kedisiplinan tidak ada tawar menawar lagi. Ini bukan soal ego Anda, melainkan tanggungjawab Anda dan mereka sendiri sebagai seorang profesional. Anda tidak bisa menghukum seseorang hanya karena tidak mau bersikap ramah kepada Anda. Namun Anda bisa menjatuhkan sanksi kepada bawahan yang tidak disiplin. Dan soal kewenangan itu, merupakan bagian dari paket amanahkepemimpinan yang Anda emban. Jika bawahan Anda tidak disiplin, perusahaan akan meminta Anda pertanggungjawaban. Maka dari awal kepemimpinan, Anda harus mempunyai kesepekatan soal menegakkan kedisiplinan. Soal menegakkan kedisiplinan ini bukanlah jalan satu arah. Artinya, Anda sendiri harus disiplin. Jika Anda sendiri tidak disiplin, wajar kalau anak buah Anda semakin melecehkan. Dan ketidakdisiplinan Anda itu menunjukkan bahwa Anda, memang tidak layak menjadi pemimpin. Menegakkan kedisiplinan berarti menjadikan diri sendiri dan orang-orang yang Anda pimpin sama-sama berdisiplin.
5. Tunjukkan keadilan. Guru kehidupan saya mengatakan bahwa diantara orang-orang yang paling disayang Tuhan dihari perhitungan amal adalah pemimpin yang adil. Bukan pemimpin yang salesnya paling tinggi atau yang bonusnya paling banyak. Mengapa? Karena keadilan itu bukan soal yang gampang untuk diterapkan. Jika Anda merasa bawahan Anda tidak sopan, hati Anda berbisik;’tahu rasa nanti lu ya!’. Padahal boleh jadi kinerjanya justru paling baik. Namun karena Anda lebih suka pada bawahan yang ABS maka penilaian Anda tetap buruk. Penilaian juga dipengaruhi banyak faktor subyektif lainnya. Bahkan ada juga pemimpin yang mengancam bawahan untuk melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan pekerjaan. Jika tidak? Hmmh, tahu sendiri akibatnya. Jabatan tinggi itu dekat sekali dengan penindasan dan kesewenang-wenangan. Keadilan Anda itu menimbulkan rasa hormat bawahan. Termasuk orang-orang yang Anda anggap paling sulit. Maka sikap adil, sangat dihargai oleh bumi dan dijunjung tinggi oleh langit. Secara pribadi, Anda boleh tidak suka atau tidak cocok dengan bawahan Anda. Namun soal keadilan, Anda tidak memiliki hak untuk mempermainkannya. Mengapa? Karena keadilan adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepada setiap orang yang menyandang gelar sebagai pemimpin.
Memimpin manusia itu berbeda dengan menggembalakan domba-domba. Anda cukup menggiring mereka kepadang rumput yang subur, lalu membawanya pulang ke kandang setelah mereka kenyang. Manusia, setiap individunya mempunyai kehendak yang berbeda-beda. Bukan sekedar perut belaka. Bahkan diantara mereka ada yang menginginkan kursi kita. Maka tentu pendekatannya jauh berbeda. Saya dulu pernah menjadi gembala domba. Saya juga pernah dan sedang mengemban amanah untuk memimpin manusia. Kedua pengalaman nyata itu membuat saya semakin sadar bahwa manusia bukanlah domba. Manusia adalah mahluk yang setara dengan kita. Makanya, mereka menuntut perlakuan yang bermartabat dan rasa hormat dari atasannya. Saat martabat dan rasa hormat itu mereka dapat, maka mereka tidak lagi berselera untuk menjadi bawahan yang sulit.
Bawahan yang kita kira sulit mungkin sebenarnya bukan orang yang sulit. Melainkan orang yang belum kita fahami, bagaimana cara mengatasinya.
Rasa Syukur, Kenikmatan, Dan Kebahagiaan.
by : Dadang Kadarusman
Kita tidak pernah berhenti mencari kebahagiaan. Meskipun sangat sulit untuk mendefinisikannya. Kebahagiaan itu apa dan seperti apa. Tidak mudah untuk memahaminya. Maka kebahagiaan sering menjadi terlampau abstrak untuk bisa kita rengkuh ke alam realitas. Orang miskin mengira orang kaya lebih bahagia karena segalanya serba ada. Orang kaya, banyak yang menilai betapa bahagianya orang-orang miskin yang terbebas dari belenggu hutang hingga ratusan juta bahkan milyaran. Jadi sebenarnya kebahagiaan itu apa? Dalam pencarian atas kebahagiaan itu, saya sering merasakan kenikmatan. Ketika uang saya sedikit – misalnya – saya merasa nikmat. Ketika uang saya sedang banyak, juga terasa nikmat. Ketika sakit, terasa nikmat. Saat sehat juga nikmat. Saat sendiri nikmat, ramai-ramai juga nikmat. Jika kenikmatan-kenikmatan kecil itu kita kumpulkan, lalu dirangkai dalam rentang waktu yang panjang, maka perasaan batin kita menjadi sedemikian nyaman. Pada saat-saat seperti itulah kita merasakan kebahagiaan. Apakah Anda merasakan hal yang sama?
Laksana sebatang pohon; Kebahagiaan itu adalah buahnya. Kenikmatan adalah batangnya. Sedangkan akarnya adalah; rasa syukur. Mau tumbuh dimana buah jika tidak ada batang yang menyangganya? Bagaimana batang bisa tegak jika tidak memiliki akarnya? Maka begitu pula kebahagiaan yang kita cari-cari itu. Tidak mungkin kita bisa meraih kebahagiaan tanpa kemampuan untuk merasakan kenikmatan. Dan kita tidak mungkin bisa menikmati apapun jika tidak memiliki rasa syukur. Maka, untuk bisa meraih kebagiaan itu, kita membutuhkan rasa syukur atas semua nikmat yang kita dapatkan. Karena dari rasa syukur itu akan tumbuh pohon kenikmatan yang kokoh. Barulah pohon kenikmatan itu bisa berbuah kebahagiaan. Jadi, untuk menemukan kebahagiaan; kita perlu terlebih dahulu memiliki rasa syukur itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memiliki akar rasa syukur, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1. Titik awal menuju kebahagiaan. Untuk menuju kebahagiaan, ada rute sederhana yang lurus tidak berkelok. Datar tidak terjal. Halus tidak kasar. Dan aman tidak berbahaya. Dalam rute itu ada titik pemberangkatan bernama ‘rasa syukur’ – jalur untuk dilalui bernama ‘kenikmatan’, dan – tempat tujuan bernama kebahagiaan. Bahagia itu titik terjauh dalam rute perjalanan kita. Sedangkan kenikmatan itu adalah apa yang sepatutnya kita rasakan selama menempuhnya. Rasa syukur ada dimana? Ada didalam daftar opsi atau pilihan hidup kita. Kita boleh memilih untuk memulai perjalanan ini dengan bersyukur sehingga bisa masuk kedalam jalur kenikmatan. Kita juga boleh memilih untuk tidak bersyukur sehingga apapun yang kita dapatkan akan menghasilkan keluh kesah. Konsekuensinya, jika kita memulai dari pos rasa syukur, maka apapun yang kita alami disepanjang perjalanan itu akan penuh dengan kenikmatan sehingga diakhir perjalanan; semua kenikmatan itu diakumulasikan menjadi kebahagiaan. Sebaliknya, jika memulainya dari titik ‘bukan rasa syukur’ maka bahkan semua kemewahan pun tidak akan menghasilkan kenikmatan sehingga tidak mungkin kita bisa meraih bahagia itu. Jadi, mari kita berfokus kepada titik awal pemberangkatan yang bernama ‘rasa syukur’.
2. Rasa syukur atas hidup. Jika ada orang yang ‘menyesali hidup’, maka itu menunjukkan kalau orang itu tidak memiliki rasa syukur atas hidup yang sudah dia dapatkan. Bukan hidupnya yang membuat kita menyesal, melainkan kualitas hidup itu sendiri. Tidak relevan jika kita menyesali hidup karena kualitasnya. Karena hidup itu dihadiahkan oleh Tuhan. Sedangkan kualitasnya, ditentukan oleh ikhtiar yang kita lakukan. Baik atau buruknya kualitas hidup kita sedikit banyak ditentukan oleh kemauan, usaha, kerja keras, dan kegigihan kita untuk memperjuangkannya. Jika kita tersisih dari arena perjuangan itu, mengapa lantas kita salahkan hidup? Kita tentu tidak termasuk orang yang menyesali hidup. Namun, seringkali kita menyesali hal-hal yang ‘tidak kita lakukan’ dimasa lalu. “Oh, seandainya dulu saya begini-begitu, tentu sekarang saya blablabla..” bukankah begitu sesal yang sering kita dengarkan dari dalam? Maka wajar jika Sang Pemberi Hidup menyeru kita untuk mensyukuri hidup. Dia sanggup merenggutnya sejak kemarin. Tapi sampai sekarang kita masih juga hidup. Juga wajar jika kita bersyukur atas anugerah itu dengan menjadikan kehidupan kita baik didalam pandanganNya. Karena tidak ada cara yang lebih baik untuk mensyukuri hidup, selain mengisi hari-hari dalam hidup kita dengan tindakan dan perbuatan yang disukai Sang Pemberi Kehidupan.
3. Rasa syukur atas kemudahan. Sudah berapa banyak kemudahan yang Anda dapatkan? Tubuh Anda sempurna sehingga segala urusan bisa Anda lakukan tanpa hambatan. Ban motor atau mobil Anda terhindar dari paku dijalan sehingga perjalanan Anda tidak mengalami hambatan. Kompor gas Anda menyala normal sehingga masakan Anda bisa matang. Anak-anak Anda sehat sehingga Anda bisa pergi ke kantor dengan tenteram. Gigi Anda afiat sehingga semua aktivitas harian bisa dijalani dengan nyaman. Ada lagi kemudahan lainnya? Banyak. Bahkan guru kehidupan saya mengingatkan; “Jika engkau menghitung-hitung kemudahan yang sudah Tuhan berikan, takkan mungkin engkau sanggup menghitungnya.” Sekarang, apa yang kita lakukan dengan sekujur tubuh kita? Kebaikankah? Atau keburukan? Jika jabatan yang kita sandang itu bagian dari kemudahan yang diberikan Tuhan, maka bagaimana cara kita menunaikan amanah itu pun merupakan gambaran dari rasa syukur yang kita miliki. Semua kemudahan yang kita peroleh, apakah digunakan untuk menimbulkan kesulitan orang lain? Ataukah kita mensyukurinya dengan menjadikan kemudahan yang kita miliki untuk memudahkan urusan orang lain? Faktanya, ketika kita berhasil memudahkan urusan orang lain, hati kita merasa nyaman. Kita menikmati perasaan itu sehingga terdorong untuk melakukan hal yang sama lebih sering lagi. Dan karena aktivitas itu berlangsung terus, maka kenikmatannya pun kita rasakan terus sehingga kebahagiaan pun datang.
4. Rasa syukur atas kesulitan. Mudah untuk berucap ‘Alhamdulillah’ saat keadaan kita sedang serba indah. Bagaimana jika kita sedang berada dalam keadaan yang serba susah? Kayaknya rasa syukur atas kesulitan itu rada ngawur. Sekurang-kurangnya ada 2 alasan mengapa justru kita memerlukan rasa syukur atas kesulitan. Pertama, justru ketika berada dalam kesulitan itu setiap kemudahan yang selama ini kita dapatkan menjadi semakin terasa ‘nilainya’. Mungkin dimasa lalu, belum kita syukuri kemudahan-kemudahan itu. Maka inilah saat yang tepat untuk melakukannya. Sekaligus membuat komitmen pribadi; jika nanti mendapatkannya kembali, saya akan senantiasa mensyukurinya. Alasan kedua, mensyukuri kesulitan yang sedang kita hadapi itu boleh dibilang tingkatan rasa syukur yang paling tinggi. Bayangkan, saat Tuhan menguji kita dengan kesulitan yang sangat berat. Bukannya mengeluh. Kita malah bersyukur karena kesulitan itu justru semakin mendekatkan diri kita kepadaNya. Bukankah kita menjadi semakin kyusuk dalam berdoa ketika sedang serba susah? Maka pantaslah juga jika Tuhan berfirman bahwa; dalam kesulitan itu, terdapat kemudahan. Dan kemudahan itu akan didapatkan oleh orang yang menjaga rasa syukur; meski sedang berada di tengah deraan kesulitan.
5. Rasa syukur atas rasa syukur. Ketika kecil, saya pernah merasakan nikmatnya makan nasi hanya dengan jelantah, atau secuil garam bersama para buruh tani sambil selonjoran di pematang sawah. Ketika dewasa, saya sering berkesempatan bermalam di hotel berbintang. Seperti teman-teman lain ternyata kami hanya bisa menikmati berbagai hidangan mewah itu pada 1 atau 2 hari pertama saja. Selebihnya, kami lebih sering menyantap hidangan dipinggir jalan. Makan di emperan itu, jauh lebih terasa nikmatnya. Beberapa teman mengatakan tidak bisa tidur semalam. Banyak pikiran katanya. Padahal, kasurnya berharga belasan juta. Sedangkan satpam di komplek saya tidur nyenyak sambil duduk di kursi pos ronda yang sudah bulukan. Jadi dimana sesungguhnya nikmat itu adanya? Dalam kemewahan ada kenikmatan. Dalam kesederhanaan pun ada kenikmatan. Jadi bukan kondisi fisiknya yang menentukan. Melainkan dalam rasa syukur. Faktanya, tanpa rasa syukur; keberlimpahan yang kita miliki terasa kurang saja dan tak kunjung memberikan kebahagiaan. Dengan rasa syukur, dalam keterbatasanpun kita merasakan kecukupan. Maka rasa syukur itu pun adalah anugerah tersendiri. Mungkin hanya sedikit orang yang dianugerahi rasa syukur. Banyak yang tidak, sehingga apapun yang mereka miliki tidak bisa dikonversi menjadi kenikmatan, apalagi kebahagiaan. Maka bersyukurlah atas rasa syukur yang telah Tuhan tanamkan dalam hati kita. Karena dengan rasa syukur itu, kita punya peluang untuk meraih kenikmatan dalam hidup, dan berhasil menempuh rute yang tepat menuju kebahagiaan didunia dan diakhirat.
Buah kebahagiaan dipetik dari pohon kenikmatan-kenikmatan kecil yang berhasil kita rangkai dalam setiap detak detik kehidupan yang kita jalani. Sedangkan pohon kenikmatan itu tumbuh kokoh karena disangga oleh rasa syukur yang mengakar. Persis seperti nasihat guru kehidupan saya tentang firman Tuhan, bahwa Dia akan menambah kenikmatan bagi orang-orang yang memiliki rasa syukur. Maka jika Anda ingin melakukan proses atau perjalanan meraih kebahagiaan, mari kita memulai perjalanan itu dari titik awal bernama rasa syukur. Insya Allah, apapun yang kita alami selama perjalanan itu akan terasa nikmat. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang bahagia, hingga diakhir perjalanan ini.
Kebahagiaan adalah buah dari pohon kenikmatan yang berakar dari rasa syukur
