Wednesday, February 17, 2010

Karakter orang-orang yang beruntung

TEMPO Interaktif, Jakarta - Seorang psikolog dari Inggris, Richard Wiseman, berhasil menyimpulkan karakter orang-orang yang beruntung dan karakter itu bisa ditiru.

Wiseman melakukan p enelitian soal orang yang beruntung dan tidak beruntung ini sejak sekitar 10 tahun silam. Ia mengumpulkan data 400 orang. Separuh menyatakan selalu beruntung dan separuhnya lagi menyatakan selalu sial.

Psikolog ini ingin meneliti mengapa orang selalu beruntung--mendapat terobosan, berada di tempat  yang tepat di waktu yang tepat pula.

"Setelah melakukan banyak percobaan, saya percaya bahwa sekarang saya memahami mengapa orang lebih beruntung dibanding yang lain," ungkapnya seperti yang ia tulis dalam koran Telegraph dari Inggris. Dan yang lebih penting lagi, katanya, "Dan mungkin untuk menjadi orang yang lebih beruntung (jika menirunya)."

Ia memulai penelitian dengan memasang iklan di koran nasional dan majalah. Ia meminta orang yang selalu beruntung--atau tidak beruntung--untuk menghubunginya. Selama bertahun-tahun itu, sekitar 400 orang, pria wanita, dari 18 tahun sampai 84 tahun, datang kepadanya.

Orang beruntung itu misalnya Jessica, ilmuwan forensik berusia 42 tahun. Ia mengatakan, "Saya memiliki pekerjaan yang saya cita-citakan, dua anak yang menyenangkan, dan pria yang saya sangat cintai. Luar biasa. Jika saya memandang masa lalu saya, saya sadar saya selalu beruntung di semua hal."

Sebaliknya Carolyn, perawat berusia 34 tahun, merasa sebagai orang yang selalu sial. Ia gampang kecelakaan. Saat saat ia terkilir karena kejeblos lubang jalan, kapan hari tulang belakang cidera karena jatuh, sampai saat belajar menyetir menabrakkan mobil ke pohon. Ia juga tidak beruntung dalam urusan asmara dan merasa selalu berada di tempat yang salah pada saat yang salah.

Bertahun-tahun ia mewawancarai orang-orang ini dan mereka diminta mengisi buku harian, memberi jawaban, melakukan tes IQ, dan mengundang mereka ikut dalam sejumlah percobaan.

Hasilnya, kata Wiseman, orang-orang itu memang tidak tahu mengapa mereka selalu beruntung atau selalu sial. Tapi, kata Wiseman, "Pikiran dan perilaku mereka yang menyebabkan keberuntungan atau ketidak beruntungan itu."

Misalnya saja bagaimana orang yang selalu beruntung selalu bisa melihat peluang sedang orang yang sial, tak pernah bisa melihat peluang.

Wiseman melakukan percobaan sederhana untuk melihat bagaimana orang bisa melihat peluang atau tidak. Wiseman memberi orang yang beruntung dan tidak beruntung sebuah surat kabar.  Ia meminta orang-orang itu menghitung jumlah foto di dalam koran itu.

Rata-rata, orang yang tidak beruntung membutuhkan dua menit untuk menghitung foto. Tapi orang yang beruntung hanya butuh satu atau dua detik.

Tahu penyebab perbedaaan ini?

Di halaman dua koran itu adalah tulisan denga huruf sebesar lima sentimeter dan ruangnya sebesar setengah halaman yang bertuliskan: "Berhenti menghitung. Ada 43 foto di koran ini."

Orang beruntung bisa melihat tulisan mencolok itu, sedang orang sial tidak bisa melihatnya.

Wiseman menyempatkan iseng menulis tulisan seukuran sama di bagian tengah koran. Tulisannya: "Berhenti menghitung. Bilang pada si peneliti jika Anda sudah melihat ini dan mendapatkan 250 poundsterling" .

Tapi kembali, orang yang tidak beruntung itu tidak melihat tulisan itu sehingga tidak bisa mendapatkan 250 poundsterling (Rp 3,6 juta) dari peneliti saat itu juga. Orang yang tidak beruntung terlalu sibuk menghitung foto sehingga gagal memanfaatkan dua peluang di satu koran saja.

Tes kepribadian juga memperlihatkan bahwa orang yang tidak beruntung pada dasarnya lebih tegang daripada yang beruntung. Ketegangan ini membuat mereka tidak bisa menangkap hal-hal di luar dugaan yang kadang menguntungkan.

Bagaimana ketegangan ini bisa membuat orang tidak bisa menangkap peluang, tampak dari percobaan ini. Sekelompok orang--beruntung dan tidak beruntung--diminta melihat kursor  yang bergerak-gerak di tengah layar komputer. Tanpa ada tanda-tanda, sebuah titik besar kadang muncul di ujung layar. Hampir semua orang yang ikut percobaan ini, melihat titik besar yang muncul di ujung layar.

Nah, bagaimana jika mereka diberi ketegangan? Begini caranya. Ada kelompok satunya, beruntung dan tidak beruntung. Mereka ini itu dijanjikan hadiah uang besar jika memperhatikan kursor di tengah layar. Mereka menjadi tegang dan memusatkan perhatian pada kursor di tengah layar.  Hasilnya, hampir sepertiga peserta tidak bisa melihat titik besar di ujung layar.

Nah, orang yang tidak beruntung, terlalu fokus pada satu hal sehingga melupakan hal  yang lain yang kadang membawa keberuntungan. Hal ini tampak bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari.

Saat orang yang selalu tidak beruntung pergi ke pesta misalnya, mereka sangat memusatkan perhatian agar bisa mendapatkan pasangan yang sempurna. Akibatnya? Mereka kehilangan kesempatan membuat banyak teman baru padahal mungkin sekali satu dari banyak teman baru itu adalah orang yang sempurna menjadi pasangannya.

Begitu pula saat mereka melihat iklan lowongan pekerjaan. Orang yang selalu tidak beruntung hanya melihat jenis-jenis pekerjaan yang mereka inginkan padahal sangat mungkin ada pekerjaan lain. Orang yang beruntung lebih santai dan melihat yang ada di iklan-iklan lowongan, bukan sekedar mencari sesuatu.

Berdasarkan riset, ternyata orang-orang itu selalu beruntung karena hal-hal berikut:

1. Orang beruntung trampil menciptakan dan melihat peluang bagus.

2. Orang beruntung membuat keputusan beruntung karena mengikuti naluri.

3. Orang beruntung menciptakan sugesti diri yang positif.

4. Orang beruntung cenderung bersikap tabah sehingga nasib sial berubah menjadi baik.

5. Orang beruntung menelaah pilihan hidup secara rasional sekaligus merasakannya, tidak hanya sisi rasional semata. Sisi perasaan ini menjadi alarm dan membuat orang berhati-hati mengambil keputusan.

6. Orang beruntung selalu mencoba hal yang baru, berbeda dengan orang yang tidak beruntung yang selalu melakukan hal rutin. Orang yang tidak beruntung selalu berangkat dan pulang kerja dengan rute sama. Begitu pula dengan saat pergi ke pesta misalnya, orang yang beruntung dengan riang mengajak mengobrol orang-orang dengan baju warna sama misalnya. Sedang yang tidak beruntung, hanya mengobrol dengan orang yang sudah dikenal. Akibatnya, ia banyak kehilangan kesempatan yang mungkin membawa keberuntungan.

7. Orang beruntung cenderung melihat sisi positif jika ada masalah. Jika terjatuh dan keseleo, misalnya, masih bersyukur karena tidak patah kaki.

Wiseman kemudian mencoba-coba barangkali keberuntungan bisa dipelajari. Ia pun membuat "kursus keberuntungan" , yang mengubah nasib seseorang.

Psikolog ini meminta sekelompok orang yang beruntung dan tidak beruntung untuk ikut kursus selama sebulan. Mereka menjalani latihan yang memaksa mereka berpikir dan berperilaku seperti orang beruntung semua. Latihan ini membantu mereka melihat peluang, mendengarkan naluri, berharap beruntung, dan lebih tabah saat tidak beruntung.

Sebulan kemudian, orang-orang itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi. Hasilnya dramatis, 80 persen orang itu sekarang lebih bahagia, lebih puas dengan hidup mereka, dan--yang terpenting-- lebih sering beruntung.

Orang yang semula sudah merasa sering beruntung menjadi jauh lebih beruntung, sedang yang tadinya tidak pernah beruntung menjadi beruntung. Carolyn, misalnya. Ia lolos ujian SIM, tidak lagi gampang kecelakaan, dan lebih percaya diri.

Read More......

Sunday, February 14, 2010


Apa Definisi Anda Tentang Pekerjaan Idaman?

Dadang Kadarusman
  
Setiap orang pasti memiliki impian untuk mendapatkan pekerjaan idamannya. Akan tetapi, belum tentu pekerjaan idaman anda sama dengan pekerjaan idaman orang lain. Jangankan jenis pekerjaannya. ’Definisi tentang pekerjaan idaman’  saja bisa jadi berbeda. Jadi, apa sebenarnya definisi anda tentang pekerjaan idaman?

Kebanyakan orang menganggap bahwa yang disebut bekerja adalah berstatus karyawan untuk sebuah perusahaan. Jika itu adalah pengertian bagi kata ’bekerja’, maka setelah selesai kuliah saya tidak langsung bekerja. Sebab, begitu saya mendapatkan ijazah dari kampus; saya melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan sebutan ’karyawan’.

Pada umumnya, orang tidak memiliki ’pekerjaan’ karena memang mereka tidak mempunyai kesempatan untuk ’bekerja’. Atau lamaran yang mereka ajukan tidak mendapat sambutan dari perusahaan yang dilamarnya. Atau mereka kalah dalan bersaing dengan pelamar lainnya. Saya tidak demikian. Sebab, ada banyak kesempatan bagi saya untuk mendapatkan ’status sebagai karyawan’. Sekalipun ada perusahaan yang memanggil  untuk bekerja bersama mereka, namun saya tidak terlampau menggubrisnya. Mengapa saya tidak terlalu tertarik penawarannya? Karena, saya menganggap bahwa semua kesempatan dan penawaran yang mereka berikan bukanlah pekerjaan yang saya idamkan.

Jika anda mengira bahwa saat berprinsip demikian jiwa saya sudah matang, anda keliru. Semoga bukan sebuah aib jika saya mengatakan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah; saya justru belum benar-benar memahami apa sesungguhnya pekerjaan idaman bagi saya itu.  Saya memang memiliki beberapa kriteria terhadap pekerjaan yang saya inginkan. Tetapi, jujur saja; saya tidak benar-benar mampu membedakan apakah itu kriteria pekerjaan idaman, atau  sebuah daftar panjang tuntutan-tuntutan yang saya ingin agar perusahaan yang mempekerjakan saya memenuhinya. Faktanya, saya sendiri tidak begitu faham; bagaimana dan dimana saya bisa mendapatkan pekerjaan ideal macam itu. Sekarang anda boleh mengingat kembali; apakah diusia yang sama anda juga mengalami kegalauan yang sama?

Saya membutuhkan waktu satu tahun untuk menyadari bahwa cara berpikir saya keliru. Sebab, seperti hal-hal ’ideal’ lainnya, keinginan untuk mendapatkan ’pekerjaan ideal’ harus sejalan dengan ’situasi real’ yang kita hadapi. Jika situasinya memungkinkan untuk mendapatkan ’pekerjaan ideal’ itu, maka kita memang layak memperjuangkannya. Namun, jika situasinya seperti langit dan bumi, maka mungkin kita membutuhkan sebuah tangga untuk menghubungkan kenyataan ditanah tempat kita berpijak, dengan angan-angan yang bergelantungan diatas awan.

Saya sangat beruntung telah melewati masa satu tahun yang ’aneh’ itu. Sebab, dari hasil pengembaraan itu akhirnya bisa menemukan definisi ’bekerja’ itu apa. Sehingga, saya memiliki kemantapan hati ketika akhirnya saya benar-benar mendapatkan ’pekerjaan’. Maka, jadilah saya seorang karyawan. Dan tahukah anda, pekerjaan apa yang saya dapatkan? Saya menjadi seorang salesman. Sekarang boleh jadi hati kecil anda berbisik; ’jeh, untuk jadi salesman saja kok ribet amat.....

Mungkin anda benar. Sesungguhnya itu adalah hal yang sederhana saja. Namun, tidak demikian bagi saya pada saat itu. Karena, ketika itu saya tengah memasuki tahap pendewasaan kejiwaan yang penuh dengan gejolak. Sekalipun demikian, proses panjang itu dikemudian hari akan saya sadari sebagai tahapan yang saya perlukan. Sehingga meskipun pekerjaan itu  benar-benar jauh dari apa yang saya idamkan; tapi bisa menjadi tangga yang bisa membawa saya kepada sesuatu yang dicita-citakan. Oleh karena itu, ketika saya telah bulat tekad untuk menjadi karyawan, saya melakukannya dengan sepenuh hati. Dan saya tidak mau tergoda oleh kemalasan atau tindakan yang melenakan.

Banyak nasihat yang kita dengar tentang ’melakukan sesuatu dengan sepenuh hati’. Kita memahami nasihat itu secara konsepsi. Namun, seringkali kita secara sengaja mengingkari. Sehingga saat bekerja kita sering lupa membawa hati. Makanya, tidak heran jika saat bekerja kita sering ingin segera berhenti. Lalu melakukan hal-hal lain yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah apapun terhadap kualitas pekerjaan kita. Tidak pula meningkatkan kualitas diri kita sebagai seorang pekerja.

Perjalanan dialog diri selama setahun itu membawa berkah bagi saya. Karena, ketika menemukan bahwa hati yang penuh diperlukan saat bekerja; saya selalu berupaya untuk membawa hati itu serta. Hasilnya? Sebelum genap enam bulan memulai pekerjaan itu, saya mendapatkan kesempatan untuk ’naik satu level’ dalam pekerjaan saya. Setelah itu, saya bertanya-tanya; apakah perusahaan ini bisa membawa saya kepada apa yang saya idamkan?

Jawabannya; bisa. Tapi, belum seperti yang saya inginkan. Maka pada bulan ke-12, saya bermigrasi kepada organisasi yang ’saya kira’ akan membantu saya mendapatkan pekerjaan idaman. Saya memang menginginkan sesuatu diperusahaan yang baru itu. Namun, mereka tidak mau memberikannya. Bahkan, diperusahaan itu saya hanya dihargai sebagai salesman. Dan itu berarti saya harus kembali turun tingkatan. Saya terima? Ya. Saya menerimanya. Kemudian saya menuliskan surat pengunduran diri kepada perusahaan pertama.

Untuk mengejar sebuah impian, mungkin diperlukan pengorbanan. Jika memang demikian, saya tidak keberatan. Namun, ketika memulainya kembali saya harus mempunyai rencana yang lebih rapi. Maka, ketika menjalani pelatihan sebelum bekerja itu saya membuat ’rencana kerja 5 tahun’ pertama saya. Dan 5 tahun kemudian, saya menemukan bahwa semua hal yang saya rencanakan itu benar-benar dikabulkan Tuhan. Jika ada hal yang tidak bisa saya raih, maka itu berarti saya mendapatkan yang lebih baik dari yang saya rencanakan. Buah manis atas kesediaan membawa hati kedalam pekerjaan. Dan ditahun ke-10 sejak memulai perjalanan itu, saya menemukan bahwa pencapaian yang saya raih jauh melampaui apa yang bisa diwujudkan oleh kebanyakan orang seprofesi saya.

Jika anda mengira bahwa perjalanan karir saya ’mulus-mulus’ saja, anda keliru. Karena, saya belum menceritakan pahit getirnya. Semoga bukan merupakan sebuah aib, jika saya mengatakan bahwa selama bekerja beberapa belas tahun itu sudah dua kali saya berhadapan dengan situasi dimana saya ’nyaris dikeluarkan’. Bukan ’nyaris di-PHK’, tapi ’nyaris dikeluarkan’. Tahukah anda, mengapa saya ’nyaris dikeluarkan’? Itu adalah dampak dari eksperimen-eksperim en yang saya lakukan. Ya, saya menyebutnya eksperimen. Sebab, semua itu saya lakukan dengan kesadaran sepenuh hati untuk menemukan nilai tambah yang bisa saya berikan kepada perusahaan, dan kepada diri sendiri.

Saya tidak menganggapnya sebuah aib karena eksperimen-eksperim en itu tidak melanggar norma. Tidak pula mengabaikan etika. Apalagi mengkhianati integritas diri. Kedua peristiwa itu terjadi karena hati saya sepenuhnya menyadari bahwa saya harus melakukan tindakan yang terbaik bagi perusahaan. Mungkin, landasan itulah pula yang akhirnya ’menyelamatkan’ saya dari pemecatan. Sebab, saya percaya bahwa perusahaan, tidak ingin kehilangan karyawan yang bersedia mendedikasikan diri dengan sepenuh hati.

Lagipula, jika anda yakin bahwa anda memiliki kualitas diri yang tinggi. Dan anda dengan sepenuh hati melakukan yang terbaik bagi perusahaan; mengapa anda takut dikeluarkan? Bahkan, sekalipun anda benar-benar kehilangan pekerjaan itu; apa yang mesti anda khawatirkan? Sebab, kekhawatiran hanya bisa menghinggapi orang-orang yang tidak yakin akan 2 hal. Yaitu; kualitas dirinya, dan kebenaran tindakannya. Jika anda yakin dengan kedua hal itu, kekhawatiran tidak mungkin mengambil alih diri anda, bukan?

Saat memilih untuk berhenti, beberapa teman mengira saya bodoh. Memang, dari dulu saya telah mengambil banyak keputusan yang bodoh. Namun, tak satupun yang saya sesali. Sebab, eksperimen untuk menemukan definisi tentang apa sebenarnya ’pekerjaan idaman’ ini memang menuntut saya memasuki lorong-lorong yang kelihatannya bodoh. Namun, jika kita melintasi lorong gelap itu sepenuh hati; mudah-mudahan bisikan nurani bisa membawa kita kepada cahaya. Sehingga kita bisa menemukan jalan keluar diujung sana.

Apa definisi anda tentang pekerjaan idaman? Barangkali anda sudah berhasil menemukan sebuah jawaban. Namun, bagi saya pribadi; ’pekerjaan idaman’ itu bukanlah sebuah titik akhir. Sebab, ternyata setelah anda berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang anda idamkan, hati nurani anda membisikan definisi lain yang menuntut anda untuk mengejarnya kembali. Saat anda menjadi salesman, misalnya; anda mendefinisikan pekerjaan idaman sebagai supervisor. Saat anda jadi suprvisor, definisi anda berubah menjadi Sales Manager. Begitu seterusnya, sehingga anda tidak betul-betul tahu; dimana letak titik akhir dari definisi ’pekerjaan idaman’ itu. Tetapi, setiap kali kita menjalaninya dengan kesungguhan hati dan dedikasi yang tinggi; saya yakin, anda tidak akan pernah tersesat. Sebab, setiap eksperimen yang kita lakukan selalu sarat dengan pelajaran. Dan semakin banyak pelajaran yang kita dapatkan, semakin berkembang pula; definisi kita. Tentang. Pekerjaan idaman.

Catatan Kaki:
Bekerja bukanlah semata-mata untuk mendapatkan sejumlah imbalan. Melainkan salah satu cara bagi kita untuk mensyukuri anugerah dari Tuhan.


Read More......

KONTRASEPSI MENURUT AJARAN GEREJA 6

KONTRASEPSI MENURUT AJARAN GEREJAoleh: Rm William P. Saunders

Bagian 6:
Kontrasepsi Memperlihatkan Konsekuensi yang Serius
Pada tahun 1960, Gereja menghadapi meningkatnya tekanan sehubungan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi dengan dipasarkannya anovulant pill. Sebagai tanggapan, Konsili Vatican II menyatakan dalam Gaudium et Spes, “Putera-puteri Gereja, yang berpegang teguh pada azas-azas itu, dalam mengatur keturunan tidak boleh menempuh cara-cara yang ditolak oleh Wewenang Mengajar Gereja dalam menguraikan hukum ilahi.” Namun demikian, Paus Paulus VI mengalihkan penyelidikan atas pertanyaan-pertanya an baru mengenai masalah ini ke suatu komisi khusus (semula didirikan oleh Paus Yohanes XXIII pada bulan Maret 1963) guna meneliti populasi, keluarga dan kelahiran. Sesudah itu, Bapa Suci akan mempelajari penemuan-penemuan mereka dan menyampaikan penilaian. Termasuk dalam komisi ini pasangan-pasangan yang menikah dan berbagai kalangan yang berkompeten dalam bidang ini. Uskup-uskup yang dipilih juga dimintai pendapat, sementara uskup-uskup lainnya secara sukarela menyampaikan pandangan mereka.
Pada tanggal 25 Juli 1968, Paus Paulus VI menerbitkan Humanae Vitae yang menjunjung tinggi ajaran konsisten Gereja yang berdasarkan pada hukum kodrat maupun wahyu ilahi: “bahwa tiap persetubuhan harus tetap diarahkan kepada kelahiran kehidupan manusia” (No. 11).
Bapa Suci telah terus-menerus mengulangi ajaran Gereja ini. Dalam Familiaris Consortio, Paus menyesali “tanda-tanda merosotnya berbagai nilai yang mendasar” terbukti dalam “makin banyaknya perceraian, malapetaka pengguguran, makin kerapnya sterilisasi, tumbuhnya mentalitas yang jelas-jelas kontraseptif.”
Menariknya, Paus Paulus VI telah memprediksikan konsekuensi- konsekuensi serius akibat kontrasepsi: meningkatnya ketidaksetiaan dalam perkawinan dan merosotnya standard moral; meningkatnya rasa kurang hormat terhadap perempuan, termasuk melihat seorang perempuan sebagai obyek seks semata dan sebagai alat pemuas hasrat seksual belaka daripada melihatnya sebagai pasangan hidup dalam perkawinan; pula bahaya menguasakan kepada otoritas-otoritas publik untuk menetapkan hukum hidup bagi yang lain. Tigapuluh tahun kemudian, peringatan-peringat an ini telah menjadi kenyataan. Statistik menunjukkan pesatnya tingkat perceraian, dari rata-rata 25% pada tahun 1965 menjadi 50% pada tahun 1975 dalam masa lima tahun pertama perkawinan. Pada tahun 2000, 50% remaja Amerika melewatkan bagian hidup mereka yang penuh gejolak itu tanpa figur seorang ayah. Di samping itu, Dr. Robert Michaels dari Stanford University mendapati suatu korelasi langsung dan positif antara meningkatnya tingkat perceraian dan tingkat penggunaan kontrasepsi. (Yang menarik, pasangan-pasangan yang mempergunakan Keluarga Berencana Alami memiliki tingkat perceraian yang jauh lebih rendah: 0.6 persen menurut Couple to Couple League dan 2-5 persen menurut penelitian yang dilakukan oleh California State University.)
Siapapun dapat membuktikan merosotnya kualitas moral dalam tayangan-tayangan televisi dan film-film sepanjang masa ini, seperti terbukti oleh tayangan-tayangan macam “Friends” atau “Sex in the City”. Pornografi dengan cepat merajalela, dengan 630 juta penyewaan video porno dilaporkan setiap tahunnya di Amerika Serikat. Tersedianya kontak pornografi dan seksual melalui internet juga dalam tingkat mengkhawatirkan.
Dipisahkannya aspek unitive dari aspek procreative dalam kasih perkawinan, dan dihilangkannya kasih perkawinan dari perkawinan itu sendiri telah menjadikan “kasih seksual” sekedar aktivitas rekreasi dan hubungan badani bebas. Banyak sekolah menengah negeri khususnya, menanamkan perilaku di kalangan para murid bahwa mereka dapat menikmati “seks yang aman,” dengan demikian menyamarkan tanggung jawab akan hadirnya seorang anak, atau kemungkinan terjangkit suatu penyakit, ataupun konsekuensi- konsekuensi lainnya. Di Amerika Serikat, 100 sekolah menengah memiliki klinik yang mendistribusikan kondom dan 300 sekolah menengah tanpa klinik yang menyediakan kondom melalui para pembimbing, perawat, guru, mesin-mesin penjual otomatis, atau keranjang-keranjang (2002 The National Campaign to Prevent Teen Pregnancy). Limapuluh persen dari remaja sekolah menengah sekarang ini akan kehilangan keperawanan mereka semasa sekolah mengengah (The Center for Disease Control and Prevention, 2001). Jika statistik benar, maka 840.000 remaja putri akan hamil pada tahun ini (Center for Disease Control and Prevention, 1997). Pada tahun 1995, 32 persen dari seluruh bayi-yang-baru- lahir dilahirkan oleh ibu-ibu yang tidak menikah (1995: Monthly Vital Statistics Report). Di lain pihak, 98 persen dari semua aborsi dilakukan untuk alasan-alasan fakultatif, non-medis, yakni “kehamilan yang tak diinginkan” (Abortion: Some Medical Facts). Tidakkah segala data-data statistik ini saling berhubungan dan secara keseluruhan menunjukkan merosotnya kekudusan seksualitas manusia, perkawinan dan kasih perkawinan? 
Kejahatan permerkosaan terus meningkat setiap tahunnya. Berita marak dengan kasus-kasus pelecehan seksual dan penganiayaan seksual, bahkan di kalangan klerus. Munculnya “gerakan perkawinan sesama jenis,” adopsi anak-anak oleh pasangan-pasangan homoseksual, membuktikan hilangnya pemahaman akan rencana Allah atas perkawinan dan keluarga.
Prosedur-prosedur menyangkut pembuahan di luar tubuh (= vitro fertilization) , inseminasi buatan dan kehamilan pinjaman semakin banyak tersedia. Di samping itu, penelitian untuk kloning, termasuk kloning manusia, terus berlanjut.
Campur tangan pemerintah dalam keluarga berencana semakin meluas. Beberapa kota praja atau negara bagian, seperti Maryland dan Kansas telah mencobanya di masa lalu, mengusahakan untuk memulai program-program di mana mereka membayar para wanita untuk mempergunakan Norplant (KB Susuk, kontrasepsi selama lima tahun yang ditanamkan dalam lengan wanita) demi mengendalikan kehamilan di kalangan remaja dan kesejahteraan penerima. Negara-negara asing, seperti Peru, telah memperkenalkan program-program sterilisasi dan memaksa warga miskin untuk disterilisasi. Komisi Nasional Meksiko untuk Hak Azasi Manusia pada tanggal 16 Desember 2002 menyesalkan bahwa organisasi-organisa si kesehatan di seluruh dari ke-31 negara bagian Meksiko telah memaksakan alat-alat kontrasepsi pada warga primitif dan petani. Kebijakan internasional yang ditetapkan oleh negara-negara persemakmuran barat untuk membantu negara-negara dunia ketiga yang sedang berkembang, seringkali meliputi juga syarat-syarat untuk mengendalikan populasi penduduk, termasuk pengaturan kehamilan artifisial dan aborsi.
Ironisnya, bahkan prediksi mengenai masa mendatang pun telah berubah. Satu generasi yang lalu, Paul Ehrlich dalam bukunya “The Population Bomb” memperingatkan bahwa kelebihan populasi akan “membinasakan planet”. Kontrasepsi dinyatakan sebagai obat bagi malapetaka yang akan datang ini dan Humanae Vitae dicemoohkan. Sekarang kita mendapati diri kita dalam situasi yang berbeda. Divisi Populasi dari Perserikatan Bangsa-bangsa menerbitkan laporannya “World Population Prospects: The 2002 Revision,” memproyeksikan suatu penurunan dalam populasi penduduk dunia: dua tahun yang lalu, Divisi Populasi memproyeksikan populasi dunia 9.3 milyar jiwa pada tahun 2050; sekarang Divisi Populasi memproyeksikan 8.9 milyar. Divisi ini juga memproyeksikan bahwa tingkat kesuburan di sebagian besar negara-negara berkembang akan jatuh di bawah tingkat replacement 2.1 anak-anak sepanjang abad ini, dan pada tahun 2050, tingkat populasi di lebih banyak negara berkembang akan telah mengalami penurunan selama 20 tahun. Sebagai misal, Divisi Populasi memprediksi pada pertengahan abad terjadi 14 persen penurunan populasi di Jepang dan 22 persen di Italia; di samping itu, populasi di Eropa akan mengalami penurunan dari 726 juta jiwa menjadi 632 juta. Dengan prediksi akan harapan hidup yang lebih tinggi, lebih banyak kaum lanjut usia dan lebih sedikit kaum muda, sekarang para perencana populasi bertanya-tanya, “Siapakah yang akan merawat kaum tua? Dari manakah akan didapatkan pajak-pajak untuk menunjang program-program sosial?” Sekarang negara-negara seperti Perancis memberikan insentif pajak kepada keluarga-keluarga untuk memiliki anak-anak demi mengembalikan populasi mereka yang menurun.
Tak heran, Paus Yohanes Paulus II memaklumkan Humanae Vitae Paus Paulus VI sebagai “suatu pewartaan yang sungguh-sungguh bersifat kenabian” (Familiaris Consortio, No.29). Telah tiba saatnya untuk kembali kepada Tuhan dan kebenaran-Nya dalam hal seksualitas manusia, perkawinan dan kasih perkawinan.
Yang menarik, Dr. William May pada tahun 1968 menandatangani suatu pernyataan bersama banyak teolog lainnya menentang Humane Vitae. Di kemudian hari ia menyesali kekeliruannya. Pada tahun 1988, pada peringatan 20 tahun ensiklik, ia mengatakan, “Saya mulai melihat bahwa jika kontrasepsi dibenarkan, maka kemungkinan inseminasi buatan, reproduksi tabung, dan metode-metode serupa untuk membuahkan kehidupan di luar perkawinan secara moral dibenarkan juga…. Saya mulai menyadari bahwa teologi moral yang diajukan demi membenarkan kontrasepsi dapat dipergunakan untuk membenarkan segala perbuatan lainnya juga. Saya melihatnya sebagai semacam argumentasi manfaat yang egois, yaitu suatu teori yang mengingkari gagasan jahat dari tindakan-tindakan yang pada hakekatnya jahat. Saya mulai menyadari betapa sungguh benarnya nubuat Paus, dan betapa penyelenggaraan ilahi ia dianugerahi kekuatan untuk bertahan menghadapi tekanan-tekanan hebat yang dibebankan atasnya” (Columbia). Sekarang, limabelas tahun kemudian, artikel-artikel mengenai pembuahan di luar tubuh, kehamilan pinjaman dan kloning muncul secara teratur di media masa. Orang patut bertanya, “Menuju ke manakah kita sebagai suatu masyarakat?”
Paus Paulus VI mengakhiri Humanae Vitae dengan pernyataan bahwa Gereja akan menjadi “tanda pertentangan” . Dan memang demikianlah Gereja dalam menjunjung tinggi kesakralan perkawinan dan menentang kekeliruan kontrasepsi. Ya, Gereja akan menentang budaya populer dunia. Namun demikian, kata-kata St Paulus yang dulu disampaikan kepada jemaat di Roma, hendaknya menggema di telinga kita, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). 

Read More......

KONTRASEPSI MENURUT AJARAN GEREJA 5

KONTRASEPSI MENURUT AJARAN GEREJAoleh : Rm William P. Saunders

Bagian 5:
Referensi Mengenai Kontrasepsi dalam Kitab Suci
Dalam menjelaskan ajaran Gereja mengenai kontrasepsi, banyak orang secara keliru berpikiran bahwa ajaran ini relatif baru, sesuatu yang muncul dengan diterbitkannya Humanae Vitae pada tahun 1968. Sebagian lainnya, dari kalangan yang cenderung lebih fundamentalis, ingin tahu apakah ada dasar dari ajaran-ajaran ini dalam Kitab Suci. Dalam mempelajari baik Kitab Suci maupun sejarah ajaran Gereja kita dalam bidang ini, orang akan mendapati suatu dasar yang amat positif dan kokoh, seperti telah dipaparkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. 
Mengenai “Apakah yang harus dikatakan Kitab Suci?” suatu paparan yang sangat positif mengenai penciptaan, kasih perkawinan, dan perjanjian, muncul dari ayat-ayat Kitab Suci. Namun demikian, kita juga mendapati referensi-referensi sehubungan dengan pelanggaran terhadap aspek unitive dan aspek procreative dari kasih perkawinan dan konsekuensi- konsekuensi ilahi yang menyertainya. Dalam Kitab Kejadian, kita mendapati kisah Onan, putera kedua Yehuda. Onan menikahi Tamar, janda kakaknya Er. (Hukum Imamat bangsa Yahudi menetapkan bahwa jika saudara laki-laki tertua meninggal tanpa keturunan, maka saudara laki-laki berikutnya yang masih lajang wajib menikahi janda kakaknya demi membangkitkan keturunan bagi saudaranya yang telah meninggal itu). Kitab Suci menulis, “Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga” (Kej 38:1dst). Ini adalah suatu bentuk dasar dari kontrasepsi - dan jelas adalah dosa di mata Tuhan.
Yang menarik, tradisi Protestan mengutip kisah ini sebagai dasar untuk mengutuk segala bentuk kontrasepsi. Luther mengatakan, “Onan… membiarkan maninya terbuang. Ini adalah dosa yang lebih besar dari perzinahan ataupun incest, dan ini membangkitkan murka Allah sedemikian rupa hingga Ia membinasakannya seketika” (Komentar mengenai Kitab Kejadian). Dalam tulisannya yang lain, ia menulis, “Sebab Onan menghampirinya, yaitu tidur bersamanya dan bersatu dengannya, dan ketika sampai pada tahap inseminasi (= pembuahan), ia membuang maninya supaya perempuan itu tidak mengandung. Sesungguhnya, pada saat yang demikian tata kodrat yang ditetapkan oleh Tuhan dalam pembiakan hendaknya diikutii” (Tulisan). 
Calvin juga menyampaikan komentar mengenai kisah Onan, “Dengan sengaja membuang mani ke luar dari persatuan antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang sangat mengerikan. Dengan sengaja menarik dari persetubuhan supaya maninya terbuang adalah duakali lebih mengerikan. Sebab ini melenyapkan pengharapan akan keturunan dan membunuhnya sebelum ia dilahirkan (Komentar mengenai Kitab Kejadian). Menariknya, kedua pemimpin gerakan Protestan ini mengutuk praktek yang melenyapkan aspek procreative dari kasih perkawinan.
Sejarah lebih lanjut menerangkan posisi Gereja dalam masalah ini. Penelitian-peneliti an antropologis menunjukkan bahwa sarana-sarana kontrasepsi sudah ada sejak zaman purbakala. Papirus-papirus kesehatan menggambarkan berbagai metode kontrasepsi yang dipergunakan di Cina pada tahun 2700 SM dan di Mesir pada tahun 1850 SM. Soranos (98-139 M), seorang dokter Yunani dari Efesus, menerangkan tujuhbelas metode kontrasepsi yang diakui secara medis. Juga pada waktu itu, aborsi dan pembunuhan bayi-bayi bukanlah praktek yang tak lazim pada masa Kekaisaran Romawi.
Komunitas Kristiani perdana menjunjung tinggi kesakralan perkawinan, kasih suami isteri dan hidup manusia. Dalam Perjanjian Baru, muncul kata `pharmakeia' , yang oleh sebagian ilmuwan dihubungkan dengan masalah pengaturan kehamilan. Pharmakeia menunjuk pada campuran ramuan untuk tujuan-tujuan rahasia (= secretive); dan dari Soranos dan yang lainnya, didapatkan bukti-bukti adanya ramuan pengatur kehamilan artifisial. Sungguh menarik, pharmakeia seringkali diterjemahkan sebagai “sorcery” dalam bahasa Inggris atau “sihir” dalam bahasa Indonesia. Dalam ketiga ayat di mana kata pharmakeia muncul, dosa-dosa seksual lainnya juga dikutuk: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, pesta pora, “dan sebagainya” (bdk Gal 5:19-21). Bukti ini menegaskan bahwa Gereja perdana mengutuk segala sesuatu yang melanggar integritas kasih perkawinan.
Bukti lebih lanjut didapati dalam Didaché, disebut juga Ajaran Keduabelas Rasul, yang ditulis sekitar tahun 80M. Buku ini merupakan buku manual pertama Gereja mengenai moral, norma-norma liturgis, dan doktrin. Dalam bagian pertama, ditawarkan dua jalan - jalan kehidupn dan jalan kematian. Dalam mengikuti jalan kehidupan, Didaché mendesak, “Engkau tidak boleh membunuh. Engkau tidak boleh berzinah. Engkau tidak boleh melakukan semburit (=hubungan seksual laki-laki dengan anak laki-laki). Engkau tidak boleh melakukan percabulan. Engkau tidak boleh mencuri. Engkau tidak boleh mempraktekkan sihir. Engkau tidak boleh mempergunakan ramuan. Engkau tidak boleh melakukan abortus dan juga tidak boleh membunuh anak yang baru dilahirkan. Engkau tidak boleh mengingini milik sesamamu….” Lagi, para ilmuwan menghubungkan frase-frase seperti “praktek sihir” dan “mempergunakan ramuan” dengan kontrasepsi.
Pada intinya, Gereja Katolik pula denominasi-denomina si Kristen lainnya, mengutuk penggunaan alat-alat kontrasepsi hingga abad ke-20. Denominasi Kristen pertama yang menyetujui kontrasepsi adalah Gereja Inggris atau Gereja Episcopal. Dalam Konferensi Para Uskup Lambeth Gereja Anglikan, pada tanggal 14 Agustus 1930, disahkan suatu resolusi yang memperkenankan penggunaan metode-metode guna membatasi besarnya keluarga-keluarga “di mana dirasakan dengan jelas suatu kewajiban moral untuk membatasi atau menghindarkan diri dari menjadi orangtua.” Metode yang dianggap “utama dan jelas” adalah “berpantang sepenuhnya dari hubungan seksual… dalam suatu pengamalan hidup yang disiplin dan penuh penguasaan diri dalam kuasa Roh Kudus”; namun demikian, metode-metode lain juga dapat dipergunakan, yakni sarana-sarana artifisial. Uskup Brent menyerukan suatu permohonan yang berapi-api, menyatakan bahwa jika resolusi disahkan, maka segera kontrasepsi akan diperkenankan demi alasan apapun dan keputusan ini akan menggantikan rasionalisasi yang egois. Menariknya, menanggapi keputusan Konferensi Lambeth, T.S. Elliot menyampaikan komentarnya, “Dunia sedang mencoba bereksperiman membentuk suatu mentalitas yang beradab, namun non-Kristiani. Eksperimen ini akan gagal, tetapi kita harus amat sabar menanti kehancurannya” (Pemikiran-pemikira n sesudah Lambeth).
Sebagai tanggapan atas persetujuan kontrasepsi oleh Gereja Inggris, Paus Pius XI menerbitkan ensiklik Casti Connubii pada tanggal 31 Desember 1930 yang memaklumkan, “Oleh karena secara terbuka meninggalkan tradisi Kristiani yang tak terusik, di mana sebagian orang baru-baru ini menilai sebagai mungkin untuk dengan serius menyatakan suatu doktrin yang lain mengenai masalah ini, maka Gereja Katolik, kepada siapa Tuhan telah mempercayakan pembelaan terhadap integritas dan kemurnian moral, tetap berdiri tegak di tengah kerusakan moral yang mengelilinginya, agar ia dapat memelihara kemurnian persatuan perkawinan dari tercemar oleh noda ini, Gereja angkat suara untuk menunjukkan perutusan ilahinya dan melalui mulut kita memaklumkan kembali: penggunaan apapun dalam perkawinan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tindakan itu secara sengaja menghalangi kuasa kodrati perkawinan untuk menyalurkan kehidupan, adalah suatu pelanggaran melawan hukum Tuhan dan hukum kodrat, dan mereka yang terlibat dalam cara yang demikian tercemar dengan kesalahan dosa berat.”
Suatu tantangan baru terhadap ajaran Gereja datang dengan disetujuinya penggunaan anovulant pill (= pil untuk mencegah ovulasi, sementara tetap menstruasi) pada tahun 1960. Mengenai hal ini akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.

Read More......

KONTRASEPSI MENURUT AJARAN GEREJA 4

KONTRASEPSI MENURUT AJARAN GEREJA
oleh : Romo William P. Saunders

Bagian 4:

Keluarga Berencana Alami


Sementara mengutuk penggunaan alat-alat kontrasepsi, Gereja juga menyadari bahwa sebagian pasangan menghadapi situasi-situasi serius dalam perkawinan dan keluarga yang mendorong mereka untuk menunda kehamilan, meski tidak definitif. Guna membantu pasangan-pasangan ini, Gereja meminta dengan sangat kepada mereka untuk mempergunakan metode alami pengaturan kehamilan, seperti yang telah Tuhan Sendiri rancangkan sebagai bagian dari sistem reproduksi. Sistem ini disebut Keluarga Berencana Alami.
Sesungguhnya, salah satu dari bentuk-bentuk paling awal dari keluarga berencana alami adalah menyusui. Jika seorang perempuan menyusui bayinya secara teratur, besar kemungkinan ia tidak akan mengandung dalam jangka waktu 18-24 bulan. Dalam kenyataan, banyak suku-suku primitif mengatur kehamilan secara alami dengan cara ini.
Pada tahun 1930-an, dikembangkan Kalender Ritme (= Kalender Irama). Metode ini efektif jika perempuan memiliki siklus menstruasi yang teratur dan jika ia diberi penyuluhan dengan baik. Sebenarnya, metode ritme ini nyaris sama efektifnya dengan kondom atau metode-metode lain pencegah kehamilan. Namun demikian, Kalender Ritme tak dapat diandalkan bagi banyak pasangan. Mungkin karena itulah banyak orang berolok, “Disebut apakah pasangan yang mempergunakan metode ritme?” Jawabnya, “Orangtua.”
Keluarga Berencana Alami modern secara teknis disebut Sympto-Thermal Method atau Metode Pengukuran Suhu Tubuh. Metode ini didasarkan pada ketiga tanda kesuburan pada perempuan: suhu basal tubuh, sifat lendir serviks, dan perubahan-perubahan fisik dalam posisi serviks (= vagina). Ketiga tanda ini menginformasikan kepada pasangan bilamana isteri dalam masa subur dan kemungkinan dapat mengandung seorang anak apabila pasangan bersatu dalam kasih suami isteri. Ironisnya, sementara banyak dokter memberikan resep-resep sarana artifisial guna mencegah kehamilan, mereka memberikan teknik-teknik Keluarga Berencana Alami dalam membantu pasangan yang mengalami kesulitan mengandung seorang anak, dengan mengidentifikasikan masa subur dan dengan demikian mengetahui bilamana kemungkinannya terbesar dapat terjadi kehamilan. Di samping itu jika orang merasa khawatir mengenai keefektifannya, maka Metode Pengukuran Suhu Tubuh telah terbukti sama efektifnya dengan pil dan bahkan lebih efektif dari metode-metode pencegah kehamilan lainnya, jika dilakukan dengan benar.
Segera saja, sebagian orang dengan jujur mungkin bertanya, “Apakah perbedaan antara Keluarga Berencana Alami dengan bentuk-bentuk kontrasepsi lainnya? Keduanya tampak sama.” Meski kedua sarana tersebut memiliki tujuan yang sama - menunda kehamilan - perbedaannya terletak pada sarana itu sendiri. Dengan Keluarga Berencana Alami, pasangan tetap memelihara keutuhan perjanjian hidup dan kasih mereka. Mereka mempergunakan hanya sarana-sarana yang diberikan Tuhan kepada mereka, yang ada pada diri mereka. Dalam mengungkapkan kasih suami isteri, mereka sadar bahwa tindakan ini tidak hanya mempersatukan mereka sebagai suami dan isteri, melainkan juga memungkinkan mereka untuk ikut ambil bagian dalam karya kasih penciptaan Allah. Daripada mengenyahkan dan mengabaikan satu aspek tertentu, mereka menghormati kedua aspek unitive dan procreative.
Sebab itu, apabila karena suatu alasan serius mereka memutuskan untuk menunda kehamilan, maka keduanya - suami dan isteri - yang membuat keputusan dan keduanya bersama-sama ikut ambil bagian dalam berpantang tidak mengungkapkan kasih suami isteri selama masa subur. Keluarga Berencana Alami juga aman, dan beban ditanggung bersama oleh suami dan isteri. Di samping itu, pasangan tetap terbuka pada penyelenggaraan ilahi: jika seorang anak “yang tak direncanakan” hadir, kiranya terjadilah demikian - itu adalah kehendak Tuhan dan anugerah Tuhan; sementara dengan sarana kontrasepsi artifisial, di mana pasangan telah merencanakan segala sesuatunya dengan baik dan terkendali, kehamilan yang tak diinginkan seringkali dianggap bencana. Ingat bahwa salah satu argumentasi untuk melegalisasi aborsi adalah guna mengoreksi “kehamilan-kehamilan yang tak direncanakan” .
Paus Yohanes Paulus II dalam Familiaris Consortio mengajukan perbedaan-perbedaan antropologis dan moral antara kontrasepsi dan Keluarga Berencana Alami: “Pemilihan irama-irama alami berarti: menerima kenyataan siklus manusia, yakni wanita, dan serta-merta menerima dialog, sikap saling menghormati, tanggung jawab bersama dan pengendalian diri. Menerima kenyataan siklus dan mengadakan dialog berarti mengakui sifat rohani maupun jasmani persekutuan suami isteri, serta menghayati cinta kasih antar pribadi beserta tuntutannya, yakni kesetiaan. Dalam konteks itu, suami isteri beroleh pengalaman, bagaimana persekutuan pernikahan diperkaya dengan nilai-nilai kelembutan dan kemesraan, yang merupakan antipati seksualitas manusiawi, juga dalam dimensi fisiknya. Begitulah seksualitas dihormati dan dikembangkan dalam dimensinya sungguh dan sepenuhnya manusiawi, dan tidak pernah `diperalat' sebagai `obyek', yang - dengan membelah kesatuan pribadi jiwa raga - menyerang ciptaan Allah Sendiri pada taraf interaksi yang terdalam antara kodrat dan pribadi” (No. 32).
Sesungguhnya, Keluarga Berencana Alami mengalami sukses besar. Misalnya, pada tahun 1960, pemerintah Mauritius, suatu negara kepulauan kecil di Samudera India sebelah timur Madagaskar, hendak memulai suatu kampanye kontrasepsi besar-besaran guna mengendalikan populasi penduduk. Uskup menerbitkan sepucuk surat pastoral menentang rencana ini. Setelah mendiskusikan masalah ini dengan pejabat-pejabat pemerintah, pada tahun 1963, suatu program pendidikan Keluarga Berencana Alami dimulai. Para dokter memberikan penyuluhan kepada pasangan-pasangan pelatih, yang pada gilirannya mengajarkan metode kepada pasangan-pasangan lain. Sekarang mereka melatih 2000 pasangan setiap tahunnya. Setiap paroki memiliki suatu program khusus untuk memberikan penyuluhan kepada pasangan-pasangan dalam kursus persiapan perkawinan dan 85% pasangan yang menikah dalam Gereja menyelesaikan training tersebut. Secara keseluruhan 20% dari perempuan dalam usia subur mempergunakan Keluarga Berencana Alami; di mana kalangan Hindu dan Muslim mencapai 62%. Di samping itu, metode-metode artifisial mulai mengalami penurunan. Keefektifan Keluarga Berencana Alami menjadi suatu argumentasi yang meyakinkan dalam menentang legalisasi aborsi di negeri itu. Yang menjadi kekhawatiran Uskup Margeot sekarang ini adalah koalisi negara-negara - Amerika, Jepang dan Eropa Utara - dan yayasan-yayasan - Rockefeller and Packard - yang tengah berjuang menerapkan sarana artifisial pengatur kehamilan di segenap penjuru Afrika, yang pada gilirannya secara perlahan-lahan akan menghantar pada aborsi.
Tulisan ini tak dapat menyajikan penjelasan secara terinci mengenai Keluarga Berencana Alami, sebab itu pasangan-pasangan yang berminat atau ingin mengajukan pertanyaan lebih lanjut sehubungan dengan ajaran Gereja, hendaknya mengikuti kursus yang disediakan. Pasangan-pasangan yang mempersiapkan diri memasuki jenjang perkawinan secara istimewa didorong untuk mengikuti kursus ini. Daripada sekedar menyepelekan ajaran Gereja, baiklah orang mempelajari ikhwal ajaran dan bertanya lebih lanjut mengenai Keluarga Berencana Alami. 
Kerapkali orang berpikir bahwa Keluarga Berencana Alami tidak efektif. Sesungguhnya, apabila diterapkan dengan benar, Keluarga Berencana Alami nyaris 100% efektif dengan tingkat kehamilan 0.004 (Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika Serikat (1978)) versus “pil” yang adalah 97 persen efektif, atau kondom yang 79-88 persen efektif (Contraceptive Technology).
Namun demikian, keseluruhan masalah ini menyangkut perjanjian kasih antara suami dan isteri, dan Tuhan; menyangkut penciptaan kehidupan dalam persatuan dengan Tuhan. Sementara sebagian orang suka mengutip statistik mengenai keefektifannya, tak ada satu metode pun yang 100 persen efektif; tetapi, dengan Keluarga Berencana Alami pasangan mengandalkan kehendak dan penyelenggaraan Tuhan yang tak didapati dalam sarana-sarana lainnya. Pasangan-pasangan yang menerapkan Keluarga Berencana Alami tidak berbicara mengenai “kehamilan yang tak diinginkan,” sebab mereka sadar bahwa tindakan kasih suami isteri dapat mendatangkan kehidupan. Juga, sementara tingkat perceraian di Amerika Serikat melambung hingga sekitar 50 persen dalam lima tahun pertama perkawinan, pasangan suami isteri yang mempergunakan Keluarga Berencana Alami memiliki tingkat perceraian sekitar 0.6 persen menurut Couple to Couple League, dan 2-5 persen menurut penelitian yang dilakukan oleh California State University, dengan demikian membuktikan kokohnya perjanjian kasih di antara pasangan-pasangan ini.
Sebab itu, mengenai pengaturan kehamilan, Konsili Vatican II memaklumkan, “Penilaian itu pada dasarnya suami-isterilah yang wajib mengadakan di hadapan Allah” (Gaudium et Spes, #50). Walau demikian, seorang Katolik yang saleh haruslah pertama-tama memperhatikan ajaran Magisterium. Seperti telah ditegaskan, perkawinan adalah serius, kasih suami isteri adalah serius, penciptaan kehidupan adalah serius. Sarana-sarana kontrasepsi pada hakekatnya adalah jahat (bdk Katekismus Gereja Katolik, #2370). Oleh karenanya, pelanggaran terhadap kasih suami isteri melalui praktek-praktek penggunaan kontrasepsi secara obyektif adalah dosa berat. Tentu saja, situasi-situasi serius dapat muncul yang pada gilirannya dapat mengurangi kebersalahan pasangan dalam hal ini. Apabila pasangan bergumul dengan masalah ini, saya sarankan mereka untuk menemui imam atau membicarakannya dengan pasangan pelatih yang memberikan penyuluhan Keluarga Berencana Alami. Kerapkali, pasangan pelatih ini pernah mempergunakan sarana-sarana artifisial sebelumnya dan dengan demikian dapat memberikan penjelasan terbaik kepada pasangan-pasangan lain mengenai perbedaan antara metode-metode dan membimbing mereka dalam menghadapi masalah ini.
Tak seorang pun dapat dengan angkuh menyingkirkan ajaran konsisten Gereja mengenai masalah ini. Kita tak dapat sekedar memikirkan maksud-maksud atau motif-motif baik. Di samping itu, kita tak dapat sekedar mencari di “Yellow Pages” guna mendapatkan imam atau teolog yang akan memberikan kepada kita jawaban yang ingin kita dengar. Kita harus jujur dan bergulat dengan kebenaran, dan dengan rahmat Tuhan hidup selaras dengannya. Seperti yang ditegaskan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II “Sebagai Guru tiada jemunya Gereja memaklumkan norma moral, yang menjadi pedoman bagi penyaluran kehidupan secara bertanggung- jawab. Gereja sama sekali bukan pencipta norma itu atau penilai terhadapnya. Dalam kepatuhan terhadap Kebenaran, yakni Kristus Sendiri, yang Citra-Nya terpantulkan pada kodrat maupun martabat pribadi manusia, Gereja menafsirkan norma moral serta menyajikannya kepada semua orang yang beritikad baik, tanpa menyembunyikan tuntutan-tuntutan sifat radikal serta kesempurnaan” (Familiaris Consortio, #33).

Read More......