JAKARTA - Dikenal sebagai sosok yang tak kenal lelah dan jarang sakit, membuat Trisni Puspitaningtyas, istri dari Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk (ASII) Michael D Ruslim, tak tega memberitahukan kedua buah hatinya mengenai kejadian yang menimpa suami tercintanya, ketika sang suami terkapar koma.
"Ibunya tidak berani jawab, ibunya belum kuat ngomongnya. Karena anak-anak itu kan tidak pernah melihat bapaknya sakit. Terus tiba-tiba bapaknya koma dengan infus di mana-mana dan mesin (yang menempel) di ginjal," kata kakak ipar Michael, Totok Pribadi saat ditemui dirumah duka, Jalan Taman Patra, Jakarta, Rabu (20/1/2010).
Akan tetapi, di luar dugaan Totok, kedua anak Michael, Gisela Deamanda Prasadhistika (15 tahun) dan Mayongga Gilang Pragiwaksana (13 tahun) nampak tegar melihat kondisi ayahnya yang terkulai di RS Mount Elizabeth Singapura.
Sang kakak, Gisela, sempat 'berbicara' kepada Michael langsung di telinganya. "Lalu, entah karena hal itu atau apa, mata Micahel sempat terbuka sesaat," ungkapnya.
Sebelum terkaparnya Michael, sebelumnya didahului dengan dua aktivitas yang lumayan berat di tengah kondisinya yang memang sedang tidak fit.
Pada Senin (11/1/2010), Michael sempat pergi ke Gresik, acara kerja sama dengan Shell. Selasa baru pulang, dan Rabu masuk kantor. Lalu, pada Kamis malam, dirinya menghadiri acara seminar Bank Mega terkait dengan kiat-kiat membuat perusahaan sukses. "Tapi hari Jumat masih masuk kerja, tapi karena pusing-pusing, maka dia pulang kembali," imbuh Totok.
Karena keadaan tidak kunjung membaik, pada hari Sabtu, keluarga membawa Michael ke RS Medistra. Di RS tersebut, dia melakukan cek darah. "Ketahuan kalau dia kena demam berdarah," imbuhnya.
Kenyataan Micahel terkena DB di luar dugaan, karena gejala umum DB adalah penderitanya mengalami panas yang tinggi, tapi hanya merasa pusing-pusing saja. "Dia itu orang yang sangat menjaga kesehatan, makannya teratur. Tapi (penyebab ini) virus," jelasnya.
Terlihat, dari hasil cek lab, trombosit Micahel drop sampai dengan hanya 2.000, dan tensi sampai 35-40 saja. "Dia koma pada hari Minggu, tidak sadarkan diri dengan trombosit dan tensi seperti itu. Lalu kita minta dokter dari Singapura datang, untuk second opinion, tapi tentunya koordinasi dengan dokter Medistra," lanjutnya.
Lalu, datang Dr Chong dari RS Mount Elizabeth Singapura. Dia lalu mengecek seluruh organ Michael. "Dokter Chong bilang, virus sudah membuat lumpuh organ-organ tubuhnya," jelasnya.
Karena kondisi itu pun, organ ginjal Michael sudah tidak berfungsi, sehingga dia harus cuci darah. Dr Chong lalu bilang, kondisinya sangat buruk, karena itu dokter tersebut menawarkan pilihan apa yang sebaiknya dilakukan.
"Sebaiknya apa, dirawat di Medistra, atau dibawa ke Singapura, kalau dibawa ke Singapura dikhawatirkan mesinnya (mesin untuk menjaga kondisi ginjal), hanya bisa bertahan selama tiga jam di perjalanan. Kalau di bawa ke Singapura, dia tdk boleh lebih dari tiga jam," paparnya.
Jika dibawa ke Singapura, Dr Chong tidak memberikan jaminan dia akan sembuh, tapi dia akan berusaha membuat kondisinya lebih baik dari sekarang. Tapi, karena kondisi Michael yang tidak memungkinkan (karena alat untuk ginjal hanya bertahan tiga jam di jalan), Dr Chong bilang Michael akan dibawa jika kondisinya sudah sedikit membaik.
"Itu pada Magrhib. Lalu malamnya Dr Chong bilang, telah datang tim rescue yang mengaransi Micahel bisa tiba tidak sampai tiga jam di RS Mount Elizabeth Singapura," ujarnya.
"Yang datang dari tim rescue itu Dr Jong, ia mengatakan, hal yang sama seperti Dr Chong, ia tidak menjamin di Singapura dia tidak menggaranti, hanya ia bilang dirinya akan berusha lebih,"
Akhirnya, dibawalah Michael ke Singapura dengan ditemani istrinya dan kakaknya Setia Darma. Pada Senin di RS Mount Elizabeth Singapura, Michael belum sadar. Tapi kondisinya membaik, dimana trombosit naik sampai 12-16 ribu, dan tekanan darahnya mulai 100 lebih ke atas. "Tapi fungsi tubuhnya tidak jalan, bagaimana mengembalikan fungsinya itu," imbuhnya.
Akan tetapi, selanjutnya kondisinya jatuh memburuk kembali. Dan akhirnya dia meninggal pada pukul 06.06 WIB, atau pukul 07.00 waktu Singapura.
Widi Agustian - Okezone
Thursday, January 21, 2010
Kronologi Meninggalnya Presiden Direktur Astra
Labels:
Tokoh
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment